Kompas.com - 17/01/2017, 12:09 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Bukan cuma tren fashion yang berganti-ganti, metode diet pun demikian. Diet yang diklaim menurunkan berat badan secara cepat biasanya yang paling populer.

Menurut Jansen Ongko, Msc, RD, diet yang menurunkan berat badan paling cepat justru lebih berbahaya. "Nantinya akan ada rebound effect, sudah turun 10 kilogram tapi akhirnya malah naik jadi 20 kilogram," katanya dalam acara diskusi media yang diadakan oleh Forum Ngobras di Jakarta (16/1/2017).

Ia mengatakan, tubuh memiliki mekanisme keseimbangan atau homeostatis. "Kalau terjadi perubahan drastis maka tubuh akan berusaha mengembalikan keseimbangannya," kata konsultan nutrisi lulusan dari California State University, Amerika ini.

Pada dasarnya, tubuh ingin menyimpan lemak untuk berjaga-jaga dan juga membuat semua fungsi tubuh berjalan optimal. Itu sebabnya tubuh sering menyimpan lemak dan bukan melepasnya sebagai energi, walau kita sudah berolahraga dan membatasi kalori.

Penurunan berat badan yang sehat, menurut Jansen, adalah 3-5 persen dari berat badan per bulan. "Jadi patokannya bukan harus turun berapa kilogram, namun prosentase. Misalnya kalau berat badannya 80 kilogram maka minimal disarankan untuk turun 2,4 kilogram dalam sebulan," katanya.

Diet juga bukan berarti menahan lapar, karena tubuh tetap membutuhkan makanan sebagai sumber energi.

"Hindari juga diet yang berpantang berbagai makanan. Semakin dikekang, tubuh akan semakin berontak. Jadi, makanlah dalam jumlah sedang dan perbanyak aktivitas," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemfigoid Bulosa

Pemfigoid Bulosa

Penyakit
9 Bahaya Kelebihan Protein bagi Tubuh

9 Bahaya Kelebihan Protein bagi Tubuh

Health
Limfoma Burkitt

Limfoma Burkitt

Penyakit
Kenapa Pria Lebih Sering Ngorok Dibanding Wanita?

Kenapa Pria Lebih Sering Ngorok Dibanding Wanita?

Health
Rakitis

Rakitis

Penyakit
Vaksinasi Covid-19 pada Penderita Tumor, Kista, dan Kanker Kandungan

Vaksinasi Covid-19 pada Penderita Tumor, Kista, dan Kanker Kandungan

Health
8 Makanan dan Minuman yang Baik Dikonsumsi saat Flu

8 Makanan dan Minuman yang Baik Dikonsumsi saat Flu

Health
Mengapa Penderita BPD Sering Bermasalah dalam Hubungan Asmara?

Mengapa Penderita BPD Sering Bermasalah dalam Hubungan Asmara?

Health
6 Jenis Makanan Untuk Turunkan Kadar Kolesterol Jahat

6 Jenis Makanan Untuk Turunkan Kadar Kolesterol Jahat

Health
Minum Kopi Kok Bikin Kebelet BAB?

Minum Kopi Kok Bikin Kebelet BAB?

Health
Cara Mengatasi Eksim di Penis

Cara Mengatasi Eksim di Penis

Health
Penebalan Dinding Rahim

Penebalan Dinding Rahim

Penyakit
6 Penyebab Kram Perut saat Hamil yang Perlu Diwaspadai

6 Penyebab Kram Perut saat Hamil yang Perlu Diwaspadai

Health
5 Minuman Pelega Sakit Tenggorokan dan Jaga Daya Tahan Tubuh

5 Minuman Pelega Sakit Tenggorokan dan Jaga Daya Tahan Tubuh

Health
Benarkah Ibu Menyusui Tak Boleh Konsumsi Makanan Pedas?

Benarkah Ibu Menyusui Tak Boleh Konsumsi Makanan Pedas?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.