Sabtu, 25 Maret 2017

Health

Diet Atkins dan Ketogenik, Mana yang Lebih Baik?

THINKSTOCKPHOTOS Ilustrasi.

KOMPAS.com - Diet Atkins dan ketogenik saat ini menjadi diet yang paling banyak dicari di Google. Sama-sama tinggi protein dan diklaim efektif menurunkan berat badan, diet manakah yang lebih baik?

Diet Ketogenik
Diet ini pada dasarnya adalah pola makan dengan memperbanyak lemak, asupan protein sedang, dan rendah karbohidrat. Hampir 75 persen dari asupan kalori harian dipenuhi dari lemak, 5-10 persen dari karbohidrat, dan sisanya protein.

Dengan membatasi karbohidrat hanya 50 gram atau kurang, diet ini akan memaksa tubuh membakar lemak untuk energi. Proses itu disebut dengan ketosis.

Dalam diet ini, kita harus terus menjalani pola makan dengan rasio rendah karbohidrat, tinggi lemak, dan tinggi protein, sampai mencapai berat badan ideal. Tidak dijelaskan bagaimana cara menjaga berat barat setelah target tercapai.

Membatasi asupan karbohidrat bisa membuat kita kekurangan beberapa jenis makanan bernutrisi, seperti kacang-kacangan, kentang, sayuran, dan buah-buahan.

Menurut Edwina Clark, ahli gizi, penurunan berat badan yang cepat di awal diet bisa meningkatkan motivasi. Tetapi, sebenarnya kadar lemak dalam tubuh tidak berkurang.

"Karbohidrat disimpan dalam air, jadi saat kita mengurangi karbohidrat tubuh akan kehilangan berat air. Selain itu karbohidrat adalah sumber utama energi tubuh, sehingga jika kita membatasinya kita bisa merasa lemah, gampang tersinggung, dan sulit konsentrasi," kata Clark.

Kelebihan dari diet ini, menurut Clark, adalah asupan lemak dan protein yang tinggi membuat perut lebih lama kenyang. Proses ketosis juga menekan produksi hormon lapar.

Walau begitu, keberlangsungan diet ini dalam jangka panjang dipertanyakan. Pembatasan salah satu jenis makanan bisa membuat tubuh kekurangan nutrisi.

Daftar makanan yang dikonsumsi juga terbatas sehingga bisa menyebabkan rasa bosan. "Pada akhirnya, saat tubuh sangat ingin karbohidrat, kita bisa naik berat badan lebih banyak dari pada saat dimulainya diet," katanya.

Thinkstockphotos Ilustrasi
Diet Atkins
Diet ini memiliki empat fase. Pada fase satu (induksi) disarankan mengurangi total karbohidrat dan hanya makan sekitar 20 gram karbohidrat net atau tanpa serat, perhari. Saat makan disarankan harus selalu ada protein dan tambahan tiga porsi lemak. Fase ini berlangsung dua minggu.

Selama fase dua, asupan karbohidrat naik 50 gram dan beberapa sumber makanan ditambahkan. Ini berarti kita juga bisa makan lebih banyak sayuran dan buah, kacang-kacangan, serta biji-bijian. Fase dua ini dilakukan sampai target berat badan yang ingin dicapai kurang 4,5 kilogram lagi.

Fase tiga dan empat adalah belajar mempertahankan berat badan setelah tercapai. Pada fase tiga secara bertahap ditambah jenis makanannya, misalnya sayuran berpati, serelia utuh, dan susu. Fase ini berakhir setelah target berat badan tercapai dan dipertahankan selama empat minggu.

Fase terakhir adalah fase menjaga berat badan dan kita boleh melanjutkan pola makan seperti di fase tiga.

Karena efek diuretik dari diet pembatasan karbohidrat, biasanya berat badan pun akan lebih cepat turun. Tapi, penurunan yang drastis bisa membuat kita merasa lelah, mood tidak stabil, dan lesu.

"Sebagian orang  mungkin tidak bisa menjalankan diet ini dalam jangka panjang. Selain itu tantangannya kita juga perlu memastikan cukup asupan serat setiap hari," kata Clark.

Asupan lemak jenuh yang tinggi dalam diet ini juga bisa berpengaruh pada kesehatan jangka panjang. Namun, menurut Clark diet ini lebih baik dari diet ketogenik.

"Die Atkins mendorong pelakunya melakukan transisi pola makan secara bertahap sehingga berat badan yang sudah tercapai bisa bertahan jangka panjang," katanya.


Editor : Lusia Kus Anna
Sumber: WomensHealth,