Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Cara Memulai Pendidikan Seks pada Anak

KOMPAS.com – Banyak orangtua bingung bagaimana memulai memberikan pendidikan seks kepada anak.

Beberapa orangtua mungkin bertanya-tanya kapan sebenarnya waktu yang tepat untuk bisa melakukan hal itu?

Sementara yang lain tidak tahu bagaimana caranya dan bimbang mengenai siapa yang harus melakukannya.

Pendidikan seks idealnya memang tidak dilakukan secara tiba-tiba atau baru diajarkan ketika anak sudah akan beranjak dewasa.

Komunikasi yang dilakukan sejak dini jelas akan membuat pendidikan seks pada tahap berikutnya menjadi lebih mudah.

Tahapan pendidikan seks

Melansir buku Adik Bayi Datang dari Mana? (2016) karya dr. H. Boyke Dian Nugraga, Sp.OG, MARS dan dr. Sonia Wibisono, pendidikan seks bisa dikenalkan sejak lahir.

1. Pada usia bayi

Pendidikan seks bisa dimulai saat anak masih bayi, misalnya dengan meminta izin kepada mereka ketika membuka baju atau mengganti popoknya.

Bagi para orangtua, biasakan juga untuk mengganti baju anak-anak di ruangan yang tertutup.

Melalui kebiasaan sederhana ini, meski masih bayi atau belum bisa merespons, anak akan belajar untuk menghargai tubuhnya sendiri dan orang lain.

Setelah itu, para orangtua bisa mulai mengajari mereka cara merawat dan membersihkan kelaminnya, misalnya setelah buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB).

2. Beranjak balita

Saat anak beranjak balita, para orangtua bisa mulai mengenalkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Pendidikan seks itu bisa dimula dengan pemberian contoh terdekat, misalnya Ayah adalah laki-laki, Ibu adalah perempuan.

Setelah itu, terangkan perbedaan organ tubuh antara Ayah dan Ibu.

Para orangtua juga bisa mulai menanamkan moral dan kesopanan sesuai dengan agama dan nilai-nilai yang dianut keluarga.

Jelaskan tentang underware rules dan cara melindungi diri dari orang lain.

3. Menjelang pubertas

Pada fase ini, para orangtua bisa mulai mengenalkan kepada anak tentang tanda-tanda pubertas dan cara menghadapiya.

Beri anak-anak rambu-rambu yang jelas dalam bergaul dengan lawan jenis.

Penjelasan soal seks yang berbau ilmiah atau memerlukan bahasa medis yang agak rumit, bisa ditahan terlebih dahulu.

Sampaikan hal itu ketika anak bertanya. Hal itu salah satunya bisa menandakan bahwa logika mereka sudah sampai pada tahapan tersebut.

Sebagai saran, terangkan dengan jelas dan singkat.

Gunakan bahasa yang mudah dipahami anak sesuai dengan kemampua berpikir mereka.

Sebisa mungkin, pakai istilah-istilah ilmiah dan hindari pemakaian kiasan-kiasan yang justru bisa membingungkan anak.

Oragtua bertanggung jawab mengedukasi

Pendidikan seks kepada anak sudah menjadi barang tentu adalah menjadi tanggung jawab para orangtua masing-masing.

Ayah dan ibu bisa saja membagi peran dalam melaksanakan tugas tersebut. Misalnya sesuai dengan gender.

Di mana, ayah bertanggung jawab memberi pengetahuan kepada anak laki-laki, sementara ibu bertugas memberi eduasi kepada anak perempuan.

Anak-laki cenderung akan lebih nyaman jika membicarakan organ seksnya pada ayah, sebab memiliki organ seks yang sama.

Begitu juga sebaliknya, anak perempuan juga cenderung akan merasa lebih nyaman membahas pubertas dengan ibunya.

Lagi pula, para orangtua bisa memberikan contoh secara langsung kepada anak melalui anggota tubuh sendiri.

Seks bukan hal yang tabu

Sebelum anak mampu bertanya, alangkah baiknya para orangtua telah lebih dulu memiliki pengetahuian yang cukup mengenai pendidikan seks.

Para orangtua juga perlu menyamakan persepsi, bahwa seks bukanlah hal yang tabu yang tidak boleh dibicarakan.

Kata seks sendiri berarti perbedaan tubuh laki-laki dan perempuan atau basa disebut juga sebagai jenis kelamin.

Semenara, hal-hal yang berkaitan dengan jenis kelamin bisa disebut seksualitas, misalnya yang berkaitan dengan psikologis, sosial, biologis, dan kultural.

https://health.kompas.com/read/2020/02/23/210100868/cara-memulai-pendidikan-seks-pada-anak

Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke