Salin Artikel

6 Cara Mengelola Emosi di Tengah Kondisi yang Serba Tidak Pasti

KOMPAS.com - Situasi pandemi seperti saat ini tak hanya berdampak negatif pada kondisi fisik.

Risiko gangguan kesehatan mental juga sangat tinggi di situasi saat ini. Pasalnya, belum diketahui pasti kapan pandemi ini akan berakhir.

Itu sebabnya, banyak orang merasa kelelahan dalam menghadapi keadaan hingga emosi terkuras.

Oleh karena itu, selain berfokus menjaga kesehatan fisik kita juga harus menjaga keseimbangan emosi kita.

Riset 2015 membuktikan, orang yang mampu menjaga keseimbangan emosi tidak mudah mengalami stres dan memiliki kesehatan fisik yang lebih baik.

Lalu, bagaimana menjaga keseimbangan emosi di tengah kondisi yang serba tidak pasti?

Melansir laman Healthline, berikut cara tersebut:

1. Meditasi

Meditasi membantu kita untuk belajar mengakui semua pikiran dan kenyataan yang terjadi dalam hidup kita, bahkan kenyataan terpahit sekalipun.

Meditasi membuat kita lebih fokus untuk mengenali pikiran yang muncul, menerimanya, dan membiarkannya berlalu tanpa rasa kesal atau menghakimi diri sendiri.

Kita dapat melakukan meditasi kapan saja dan di mana saja tanpa memerlukan biaya.

2. Menulis jurnal

Menulis jurnal adalah cara yang bagus untuk memilah-milah dan menerima emosi yang hadir.

Ketika kita melakukan kesalahan, kita mungkin mengalami banyak prasaan rumit dan kekecewaan.

Perasaan-perasaan tersebut bisa mempengaruhi diri kita. Dengan menuliskan perasaan tersebut, akan membatu kita untuk merasa lega.

Pasalnya, menuliskan emosi yang kita rasakan merupakan salah satu bentuk katarsis yang bisa membersihkan pikiran kita.

Cobalah untuk melakukannya selama lima menit sehari. Tuliskan apapun yang terlintas di pikiran kita tanpa mempedulikan bahasa atau gaya tulisan yang kita gunakan.

3. Berpikir positif

Sikap positif memang tidak bisa menyelesaikan masalah tetapi membantu kita untuk menyeimbangkan emosi.

Untuk menanamkan pikiran positif dalam diri, cobalah untuk melakukan hal berikut:

  • fokus pada keberhasilan yang telah kita raih
  • menertawakan kesalahan
  • mengingatkan disi sendiri bahwa kita selalu bisa mencoba lagi
  • membangun diri dengan self talk positif.

Cara ini memang terasa aneh tetapi jika dilakukan secara rutin, maka kita akan merasakan manfaatnya.

4. Memaafkan

Wajar jika kita merasa kecewa dengan hal buruk yang terjadi. Namun, terlalu larut dalam kekecewaan hanya membuang waktu saja.

Sebaiknya, kita berdamai dengan keadaan dan memaafkan apa yang telah terjadi. Setelah itu, kita fokus pada apa yang bisa kita lakukan untuk masa depan.

Selain itu, memaafkan bisa memberi kita berbagai manfaat berikut:

  • mengurangi stres dan rasa marah
  • meningkatkan kasih sayang
  • menumbuhkan empati
  • menumbuhkan hubungan interpersonal yang lebih kuat.

5. Bercerita

Memendam emosi negatif hanya akan memperburuk keadaan dan membuatnya meledak di kemudian hari.

Emosi negatif yang terus dipendam hanya akan mendatangkan masalah berikut:

  • perubahan suasana hati
  • tekanan emosonal
  • gangguan fisik seperti sakit kepala atau ketegangan otot.

Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya kita menceritakan apa yang kita rasakan pada orang terpecaya.

Menceritakan apa yang kita rasakan akan membantu kita merasa lebih baik. Kita juga bisa mendapatkan dukungan sosial dan emosional dengan menceritakannya kepada orang terdekat.

6. Meminta bantuan profesional

Kondisi sulit seringkali membuat kita merasa kesulitan, terutama ketika kita tidak bisa melakukan apapun untuk memperbaiki situasi.

Ketika berada dalam situasi tersebut, tidak ada salahnya meminta bantuan profesional.

Profesional kesehatan mental dapat membantu kita mengelola tekanan emosional dan memberikan bantuan untuk mengatasi gangguan emosi yang kita alami.

Profesional juga bisa memberikan dukungan khusus yang sesuai dengan situasi kita.

https://health.kompas.com/read/2020/05/03/160000268/6-cara-mengelola-emosi-di-tengah-kondisi-yang-serba-tidak-pasti

Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Konfabulasi
Konfabulasi
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Herniasi Otak

Herniasi Otak

Penyakit
Sering Menjadi Faktor Risiko Utama, Apa Kaitan Bipolar dan Genetik?

Sering Menjadi Faktor Risiko Utama, Apa Kaitan Bipolar dan Genetik?

Health
Insufisiensi Mitral

Insufisiensi Mitral

Penyakit
Pahami, Ini Dampak Stres Pada Penderita Diabetes

Pahami, Ini Dampak Stres Pada Penderita Diabetes

Health
Sindrom Sjogren

Sindrom Sjogren

Penyakit
Apakah Boleh Suntik Vaksin Covid-19 saat Haid?

Apakah Boleh Suntik Vaksin Covid-19 saat Haid?

Health
Lupus Nefritis

Lupus Nefritis

Penyakit
Bisakah Anak-Anak Mengalami Gangguan Bipolar?

Bisakah Anak-Anak Mengalami Gangguan Bipolar?

Health
Karsinoma Nasofaring

Karsinoma Nasofaring

Penyakit
Kenali Berbagai Gejala Gangguan Bipolar

Kenali Berbagai Gejala Gangguan Bipolar

Health
Pseudobulbar Affect (PBA)

Pseudobulbar Affect (PBA)

Health
10 Penyebab Kram Perut dan Cara Mengatasinya

10 Penyebab Kram Perut dan Cara Mengatasinya

Health
Mengenal Beda Diabetes Tipe 1 dan Diabetes Tipe 2

Mengenal Beda Diabetes Tipe 1 dan Diabetes Tipe 2

Health
10 Cara Mengatasi Tenggorokan Gatal dan Batuk

10 Cara Mengatasi Tenggorokan Gatal dan Batuk

Health
Apa Penyebab Jerawat di Vagina?

Apa Penyebab Jerawat di Vagina?

Health
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.