Salin Artikel

3 Gejala Penyakit Arteri Koroner yang Perlu Diwaspadai

KOMPAS.com - Penyakit arteri koroner atau coronary artery disease (CAD) berkembang ketika pembuluh darah utama yang memasok darah ke jantung rusak atau terganggu.

Endapan yang mengandung kolesterol (plak) di arteri koroner dan peradangan biasanya menjadi penyebab penyakit arteri koroner.

Arteri koroner sendiri berfungsi memasok darah, oksigen, maupun nutrisi ke organ vital jantung.

Penumpukan plak dapat mempersempit arteri ini, sehingga menurunkan aliran darah ke jantung.

Pada akhirnya, aliran darah yang berkurang dapat menyebabkan nyeri dada (angina), sesak napas, atau tanda dan gejala penyakit arteri koroner lainnya.

Sementara itu, penyumbatan total arteri jantung dapat menyebabkan serangan jantung.

Karena penyakit arteri koroner sering berkembang secara perlahan, penderitanya mungkin tidak akan melihat masalah sampai mengalami penyumbatan yang signifikan atau serangan jantung.

Gejala penyakit arteri koroner

Merangkum Mayo Clinic, jika menyempit, arteri koroner berarti tidak dapat memasok cukup darah kaya oksigen ke jantung, terutama saat jantung berdetak kencang, seperti saat seseorang berolahraga.

Pada awalnya, aliran darah yang menurun mungkin tidak menimbulkan gejala apa pun.

Namun, apabila plak terus menumpuk di arteri koroner, seseorang mungkin akan mengalami tanda dan gejala penyakit arteri koroner sebagai berikut:

1. Nyeri dada (angina)

Penderita mungkin akan merasakan tekanan atau sesak di dada, seolah-olah ada orang lain yang sedang berdiri di atas dada.

Nyeri ini disebut angina, biasanya terjadi di bagian tengah atau kiri dada.

Angina pada umumnya dipicu oleh stres fisik atau emosional.

Rasa sakit biasanya hilang dalam beberapa menit setelah menghentikan aktivitas yang membuat stres.

Pada beberapa orang, terutama wanita, rasa sakit mungkin singkat atau tajam dan terasa di leher, lengan, atau punggung.

2. Sesak napas

Jika jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh, penderitanya sangat mungkin mengalami sesak napas atau kelelahan ekstrem saat beraktivitas.

3. Serangan jantung

Arteri koroner yang tersumbat sepenuhnya akan menyebabkan serangan jantung.

Tanda dan gejala klasik serangan jantung, yakni:

  • Tekanan di dada dan nyeri di bahu atau lengan
  • Terkadang disertai sesak napas
  • Terkadang disertai juga berkeringat

Wanita agak lebih mungkin dibandingkan pria untuk memiliki tanda dan gejala serangan jantung yang kurang khas, seperti nyeri leher atau rahang.

Kaum wanita mungkin juga memiliki gejala lain seperti sesak napas, kelelahan, dan mual.

Terkadang, serangan jantung bahkan dapat terjadi tanpa tanda atau gejala yang jelas.

Kapan harus ke dokter?

Jika Anda merasa mengalami serangan jantung, lebih baik jangan tunda lagi untuk segera menghubungi nomor darurat medis terdekat.

Jika Anda tidak memiliki akses ke layanan medis darurat, mintalah seseorang mengantar Anda ke rumah sakit paling terjangkau.

Jadikan mengendarai kendaraan sendiri sebagai pilihan terakhir.

Sementara itu, jika Anda memiliki faktor risiko penyakit arteri koroner, seperti mengidap tekanan darah tinggi (hipertensi), kolesterol tinggi, merokok, diabetes, obesitas, punya riwayat keluarga penyakit jantung yang kuat, sebaiknya diskusikan selalau dengan dokter.

Dokter Anda mungkin ingin menguji Anda untuk penyakit arteri koroner, terutama jika Anda memiliki tanda atau gejala arteri yang menyempit.

Diagnosis penyakit arteri koroner

Melansir Health Line, mendiagnosis penyakit arteri koroner memerlukan tinjauan terhadap riwayat kesehatan pasien, pemeriksaan fisik, dan pengujian medis lainnya.

Tes ini antara lain dapat meliputi:

  • Elektrokardiogram

Tes ini diperlukan untuk memantau sinyal listrik yang mengalir melalui jantung pasien. Elektrokardiogram dapat membantu dokter menentukan apakah pasien pernah mengalami serangan jantung.

  • Ekokardiogram

Tes pencitraan ini menggunakan gelombang ultrasonik untuk membuat gambar jantung.

Hasil tes ini dapat digunakan untuk mengungkapkan apakah ada hal-hal tertentu di dalam jantung yang berfungsi dengan baik.

  • Pengujian stres

Tes khusus ini digunakan untuk mengukur tekanan pada jantung selama aktivitas fisik dan saat istirahat.

Tes ini dilakukan dengan memantau aktivitas listrik jantung saat pasien berjalan di atas treadmill atau mengendarai sepeda statis.

Bagi pasien yang tidak dapat melakukan latihan fisik, obat-obatan tertentu dapat digunakan untuk pengujian stres.

  • Kateterisasi jantung (kateterisasi jantung kiri)

Selama prosedur ini, dokter akan menyuntikkan pewarna khusus ke dalam arteri koroner melalui kateter yang dimasukkan melalui arteri di selangkangan atau lengan bawah pasien.

Pewarna membantu meningkatkan citra radiografi arteri koroner pasien untuk mengidentifikasi penyumbatan.

  • CT scan jantung

Dokter mungkin menggunakan tes pencitraan ini untuk memeriksa timbunan kalsium di arteri pasein.

https://health.kompas.com/read/2021/02/15/140800768/3-gejala-penyakit-arteri-koroner-yang-perlu-diwaspadai

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.