Salin Artikel

Kenali Apa yang Anda Rasakan, Ini Beda Sedih dan Depresi

KOMPAS.com - Pernahkah Anda merasakan perasaan sedih yang berlarut-larut? Bisakah kesedihan berubah menjadi depresi?

Tidak jarang kedua hal ini tertukar antara satu sama lain karena gejalanya yang disangka mirip.

Saat sedang merasa murung atau sudah lama merasa sedih, Anda mungkin bertanya-tanya kondisi apa yang sedang dialami.

Meski banyak orang yang merasakan depresi merasakan kesedihan, Medical News Today mengatakan bahwa depresi jauh lebih parah daripada emosi yang sifatnya sementara.

Gejala depresi dapat berlangsung selama bulanan hingga tahunan dan menyebabkan kesulitan atau ketidakmampuan untuk melanjutkan kehidupan sehari-hari.

Ada beberapa perbedaan antara kesedihan biasa dan depresi klinis. Berikut ini adalah 7 perbedaannya berdasarkan Psych2go:

  • Masih bisa menikmati hal-hal sederhana

Apakah Anda masih bisa tertawa saat menonton acara favorit Anda?

Jika masih memiliki energi untuk menikmati hobi dan ketertarikan Anda kemungkinan besar yang dialami adalah kesedihan normal dan bukanlah depresi klinis.

Orang yang didiagnosis dengan depresi sering menemukan diri mereka sendiri dengan kelelahan yang luar biasa dan mungkin tidak tertarik dalam melakukan hal-hal yang pernah membuat mereka bahagia.

Perasaan mati rasa ini bisa berlangsung lama, yang berbeda dari kesedihan biasa.

  • Memiliki energi yang cukup untuk menyelesaikan tugas harian

Masih adakah nafsu makan? Apakah sering kesulitan tidur di malam hari?

Depresi sering disertai dengan ketidakmampuan untuk menyelesaikan aktivitas rutin karena kekurangan energi dan tidak memiliki motivasi saat tidak bahagia.

Bahkan hal-hal sederhana seperti pergi ke kamar mandi dapat terasa melelahkan.

Orang-orang yang depresi sering tinggal di tempat tidur dan kehilangan jejak akan waktu terselimuti perasaan mati rasa.

Berbeda dengan orang yang sedih, mereka akan lebih diam dan tidak aktif dari biasanya, namun begitu kebutuhan muncul, mereka akan makan, ke kamar mandi, dan mengurus diri.

  • Masih nyaman berbicara dengan teman dan orang yang dicintai

Orang dengan depresi mungkin tidak dapat bercerita dan terbuka tentang apa yang terjadi karena penyebab dari depresi terkadang tidak dapat diketahui asalnya.

Seperti yang dikatakan di A Lust For Life, beberapa orang yang depresi memilih untuk tidak terbuka sama sekali, yang dapat mencegah mereka untuk mencari bantuan karena merasa dirinya tidak berharga.

Hal ini berbeda dari kesedihan biasa. Saat sedih, Anda mungkin ingin istirahat dan mengisolasi diri untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya, dapat bersosialisasi kembali.

  • Harga diri Anda tidak terpengaruh secara permanen

Umum bagi orang yang sedih untuk memiliki perasaan negatif tentang diri sendiri dan hal-hal yang mengganggu mereka.

Namun, perasaan ini cenderung memudar seiring waktu, terlebih ketika akar masalahnya telah ditemukan.

Hal ini berbeda dengan orang yang depresi, yang terjebak dalam lingkaran negatif yang terus-menerus dapat meluas ke pikiran dan tindakan untuk menyakiti diri sendiri, atau bahkan bunuh diri.

Mampu pulih dari pengalaman buruk adalah indikator yang baik dari kesehatan mental Anda.

  • Mengalami burnout

Apakah bermain dengan teman-teman Anda terasa tidak menyenangkan seperti dulu?

Padahal tidak ada yang berubah atau mungkin Anda merasa kesulitan untuk mempertahankan rutinitas yang telah direncanakan selama waktu yang lama?

Semua orang membutuhkan jeda.

Jika tidak, mereka berisiko burnout, yang ditandai oleh perasaan energi menipis atau kelelahan yang disebabkan oleh stres berkepanjangan dapat disalahartikan sebagai depresi.

Dengan burnout, Anda mungkin tidak dapat menyelesaikan tugas karena adanya jarak mental antara Anda dengan tugas tersebut, atau tidak ada energi karena stres yang telah dialami dalam waktu yang lama menumpuk.

Untuk menghindari burnout, cobalah beri waktu untuk setiap aspek kehidupan, seperti melakukan perjalanan semalam dengan teman-teman, pergi kencan buta, atau pergi ke kelas dansa.

Tetap aktif dan menjelajahi banyak hal dapat menghindari stagnasi.

  • Merasa lebih baik setelah melampiaskan kesedihan

Apakah Anda merasa lebih ringan setelah menangis?

Merasa lebih baik setelah melepaskan emosi adalah indikator baik yang menunjukan seseorang sedang sedih, dan tidak depresi.

Orang yang depresi secara klinis sering tidak melihat inti dari membuka diri tentang hal yang mereka alami, dan cenderung melihat diri mereka sebagai hal yang tidak berharga dan tidak layak perhatian.

Menurut Talklet, membicarakan perasaan itu penting untuk membantu proses emosi, mengembangkan kesadaran emosional, dan menjernihkan pikiran.

Jadi lebih baik mengeluarkan emosi daripada menahannya.

  • Kesedihan dapat tersembuhkan oleh waktu

Setelah beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan, apakah Anda masih mengalami situasi yang sama atau perlahan telah melupakannya?

Mampu bangkit kembali dari permasalahan adalah indikator bahwa apa yang dialami merupakan kesedihan normal, dan bukan depresi.

Seperti yang telah disinggung di awal, depresi jauh lebih parah dalam hal sejauh mana gejala dan bagaimana gejala-gejala ini mengganggu kehidupan orang tersebut.

Jadi setiap kali merasa sedih, sebisa mungkin untuk meluangkan waktu untuk mengakui perasaan tersebut dan cobalah untuk menemukan strategi koping yang sehat, dan kelilingi diri Anda dengan teman dan keluarga yang penuh kasih dan mendukung.

https://health.kompas.com/read/2022/05/17/130000568/kenali-apa-yang-anda-rasakan-ini-beda-sedih-dan-depresi

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.