Mendambakan Obat Murah

Kompas.com - 21/02/2011, 06:13 WIB
EditorLusia Kus Anna

Saya mengalami infeksi influenza yang cukup berat. Saya berobat ke salah seorang spesialis di kota saya. Saya terkejut karena biaya konsultasi tak terlalu mahal, hanya seratus ribu rupiah tetapi obatnya mencapai dua ratus ribu rupiah. Jadi, untuk biaya berobat penyakit yang relatif sederhana, saya harus mengeluarkan biaya tiga ratus ribu rupiah. Padahal, gaji saya hanya lima juta rupiah sebulan dan saya harus mengeluarkan biaya untuk keluarga saya, istri, dan dua anak saya.

Usia saya sekarang 36 tahun. Seingat saya, sewaktu kecil dulu harga obat tidaklah mahal. Saya dan saudara-saudara saya sering diajak berkonsultasi ke dokter, padahal ayah hanya seorang guru yang pendapatannya terbatas. Saya merasakan bahwa jika sakit, untuk berobat sekarang ini memerlukan biaya yang tinggi. Belum lagi jika dirawat di rumah sakit.

Kenapa biaya berobat semakin tinggi. Apakah karena biaya kuliah untuk menjadi dokter mahal? Ataukah karena ekonomi kita yang disebut sebagai ekonomi biaya tinggi? Saya tak tahu apakah dokter juga melindungi diri dengan asuransi karena sekarang banyak tuntutan pasien terhadap dokter, yang sudah tentu akan menyebabkan biaya berobat menjadi mahal.

Adakah cara agar kita bersama dapat menurunkan harga obat khususnya, dan biaya berobat pada umumnya? Saya berniat melindungi diri dengan asuransi kesehatan tetapi cukup banyak anggota masyarakat yang hidupnya sulit sehingga tak mampu masuk asuransi. Mohon pendapat dokter.

B di J Jawab

Biaya berobat memang semakin meningkat. Ini tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Banyak faktor penyebab, di antaranya penggunaan teknologi canggih, penemuan obat baru, dan juga sarana layanan kesehatan yang mewah. Sudah tentu biaya ekonomi tinggi juga akan berpengaruh pada biaya kesehatan.

Di kota-kota besar di Indonesia sudah mulai tampak kecenderungan defensive medicine, yaitu dokter berusaha melindungi tindakannya dengan melakukan berbagai pemeriksaan laboratorium, penunjang, serta tindakan medis yang lengkap. Diharapkan, jika lengkap, hal ini akan dapat melindungi dokter apabila ada tuntutan. Dengan demikian akan banyak pemeriksaan yang sebenarnya tak perlu namun karena ketakutan dokter tetap dilakukan agar dokter tak dituduh lalai.

Memang benar kebiasaan menuntut dokter akan disikapi sebagian besar dokter dengan melindungi diri dengan asuransi profesi meski dokter yang membayar preminya sudah tentu tetap akan meningkatkan biaya berobat.

Jadi, barangkali sudah waktunya kita membina hubungan yang baik antara dokter dan pasien. Kita perlu meningkatkan komunikasi dokter dan pasien. Dokter perlu mempunyai empati, mendengarkan keluhan pasien dengan baik, tetapi pasien juga perlu mempunyai motivasi untuk sembuh serta percaya kepada dokter. Percaya bukan berarti pasien atau keluarga percaya saja semua perkataan dokter, tetapi percaya seperti kita memercayai sahabat kita. Kita percaya dokter berniat baik kalau ada yang tak jelas dapat kita komunikasikan.

Biaya mahal

Halaman:

27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.