Kompas.com - 23/02/2013, 07:30 WIB
EditorLusia Kus Anna

Jakarta, Kompas - Di tengah terbatasnya pendidikan kesehatan reproduksi, murahnya produk teknologi, dan mudahnya akses informasi, pola didik orangtua terhadap remaja tak banyak berubah. Kesehatan reproduksi masih tabu diperbincangkan dalam keluarga. Akibatnya, remaja mendapatkan informasi yang salah.

”Orangtua menjadi pihak yang paling tidak tahu perkembangan anaknya,” kata Baby Jim Aditya, pekerja kemanusiaan bidang penanggulangan HIV/AIDS, seksualitas, dan narkoba dalam diskusi kelompok terarah Sosialisasi Program Kependudukan dan KB Melalui Media, Kamis (21/2), di Jakarta.

Dari pengalaman Baby memberikan pendidikan kesehatan reproduksi di sejumlah sekolah, baik sekolah umum maupun berbasis agama, terungkap bahwa banyak remaja tak tahu seluk-beluk kesehatan reproduksi. Beberapa remaja putri tidak tahu organ reproduksi dan fungsinya. Banyak di antara mereka juga tidak paham risiko tindakan seksual yang dilakukan.

Sementara itu, remaja putra banyak menerima informasi tentang kesehatan reproduksi yang keliru. Penyebabnya, referensi mereka adalah video porno yang bisa didapat dengan mudah. Ada pula remaja umur 16 tahun yang sudah tujuh kali berhubungan intim dengan gadis berbeda, tapi tidak paham soal HIV.

Jika terjadi hal-hal yang dianggap memalukan, anak menjadi sasaran kemarahan orangtua. ”Padahal, orangtua tidak mengajarkan kesehatan reproduksi kepada anaknya karena mereka tidak paham soal kesehatan reproduksi,” kata Baby.

Pendidikan kesehatan reproduksi bukan mengajarkan seks bebas, melainkan mengajarkan penghargaan terhadap jender dan kemampuan bernegosiasi menolak ajakan berhubungan seks. Ketidaktahuan tentang kesehatan reproduksi, pada remaja maupun orangtua, memicu banyaknya pernikahan dini.

Dokter konselor kesehatan reproduksi Hernalom Gultom mengatakan, perkawinan dini banyak dilakukan dengan alasan ekonomi atau agama, yaitu daripada berbuat zina. Orangtua terkadang menjadi pendorong.

”Perkawinan dini berisiko tinggi karena organ reproduksi remaja belum siap,” katanya. Ini berpotensi meningkatkan kasus kematian ibu melahirkan, mengganggu tumbuh kembang anak akibat orangtua yang tidak siap menjadi orangtua, hingga memperpanjang masa subur perempuan yang bisa mengakibatkan ledakan jumlah penduduk. (MZW)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.