Berisiko, Jamu Berbahan Kimia Obat Berkhasiat Cepat

Kompas.com - 09/11/2013, 09:54 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi
|
EditorWardah Fajri
KOMPAS.com — Sebagai alternatif menjaga kesehatan tubuh, masyarakat Indonesia masih setia mengonsumsi jamu. Sayangnya, sejumlah produsen jamu memanfaatkan kebiasaan ini dengan mencampur jamu menggunakan bahan kimia obat (BKO). Campuran BKO pada jamu memberikan manfaat berbeda, khasiat jamu lebih cepat terasa. Namun, hal ini justru menimbulkan berbagai risiko, termasuk kematian.

"Ada organ dalam tubuh yang sebetulnya bekerja lebih keras. Kondisi inilah yang berisiko menimbulkan dampak negatif, salah satunya kematian. Jamu ber-BKO sendiri bisa berefek saling menguatkan atau meniadakan, bergantung pada frekuensi dan dosis yang diminum," kata dr Aldrin Nelwan SpAk, MBiomed, MARS, kepada Kompas Health.

Untuk dampak saling menguatkan, Aldrin mengambil contoh jamu mengandung BKO dengan bahan daun seledri. Jamu ini bertujuan menurunkan tekanan darah bagi penderita hipertensi. Dengan pencampuran obat kimia, tekanan darah turun drastis dalam waktu cepat. Akibatnya, konsumen berisiko hilang kesadaran hingga mengalami kematian.

Lebih jauh, Aldrin mengatakan, hasil interaksi jamu mengandung BKO dalam tubuh bisa berlangsung cepat dan lambat. Hal ini bergantung pada reaksi tubuh pada obat yang diminumnya. Reaksi cepat berlangsung dalam 24 jam pertama. Sementara reaksi lambat membutuhkan waktu beberapa hari hingga minggu.

Keparahan hasil interaksi, kata Andri, dibagi menjadi tiga. Tingkat pertama adalah minor, yang mengindikasikan masalah dapat diatasi. Hasil bertambah parah menjadi moderat yang merupakan reaksi sedang. Tingkat paling akhir adalah mayor, yang mengindikasikan kematian peminum jamu mengandung BKO.

Ketiga tingkat reaksi ini bergantung sepenuhnya pada ketahanan tubuh. Karena itu, lebih aman bila konsumen tidak mengonsumsinya untuk mencegah reaksi mayor.

"Jangan pernah mengonsumsi jamu ber-BKO. Kendati sulit dihindari karena bentuknya sama, perbedaan nyata dirasakan dari cepatnya efek yang ditimbulkan. Bila efek cepat dirasakan, segera hentikan pemakaian," kata Aldrin.

Parasetamol dalam jamu
Untuk tahun ini,  BPOM RI menemukan 59 produk jamu mengandung BKO. Dari temuan ini, BKO yang paling banyak digunakan adalah parasetamol, sidenafil, dan fenilbutason. Parasetamol menduduki posisi puncak dengan 11 kasus.

Parasetamol kerap digunakan sebagai pereda panas dan nyeri. Sementara sidenafil dikonsumsi untuk meningkatkan stamina, terutama pada pria. Sementara fenilbutason kerap dikonsumsi untuk meredakan pegal linu.

"Sama seperti tahun sebelumnya, parasetamol tetap menduduki peringkat pertama. Hal ini mengindikasikan konsumen parasetamol paling banyak," kata Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen BPOM RI Bahdar J Hamid.

Serupa dengan Aldrin, Bahdar memperingatkan masyarakat untuk tidak mengonsumsi jamu mengandung BKO. Walau tampak menguntungkan, jamu mengandung BKO sesungguhnya mengancam kesehatan masyarakat.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X