Kompas.com - 26/11/2013, 17:02 WIB
Penulis Wardah Fajri
|
EditorWardah Fajri
KOMPAS.com - Batita dengan gizi baik bukan hanya memengaruhi kesehatan saat masa kanak-kanak, namun juga berefek panjang hingga masa dewasa.

Bayi yang tidak mengalami malnutrisi (kekurangan atau kelebihan zat gizi tertentu), juga terhindari dari gizi buruk, memiliki otak dan fisik dengan fungsi lebih optimal dan bisa diandalkan untuk menjalani kehidupannya kelak.

Karenanya, penting bagi orangtua untuk memantau gizi anak, dengan lebih memerhatikan pemberian makan anak di bawah usia tiga. Jika mendapati batita kekurangan zat gizi atau berada dalam status gizi buruk, lakukan intervensi sesegera mungkin.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Damayanti Rusli Syarif, Sp.A(K) menyatakan, batita dengan gizi buruk yang tidak mendapatkan intervensi memiliki dampak jangka panjang.

"Gizi buruk tanpa intervensi sebelum usia dua tahun, sebabkan IQ turun. Dengan intervensi, IQ bisa naik tapi cepat turun lagi. Anak kehilangan potensinya jika gizinya buruk. Karenanya gizi buruk perlu dicegah jangan diobati," ungkapnya di sela peluncuran portal web tentang vaksinasi di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut Ketua Divisi & Penyakit Metabolik dari Departemen IKA FKUI RSCM ini gizi buruk pada batita berdampak panjang. Selain anak cenderung pendek, kemampuan kognitif anak juga berkurang. IQ anak juga bisa turun.

"Kalau IQ turun, peluang bekerja white collar juga menurun. Bekerja sebagai buruh yang mengandalkan tenaga juga tidak bisa. Jadi ke depannya, kerja berdasarkan otak tidak bisa, kerja dengan fisik juga tidak bisa, kalau gizi buruk saat batita," terangnya.

Untuk memastikan gizi anak baik, orangtua perlu rajin memantau tumbuh kembang melalui Kartu Menuju Sehat. Pemeriksaan rutin berkala di dokter, Puskesmas atau paling sederhana di Posyandu bisa menjadi cara mengontrol status gizi anak. Penimbangan berat badan, pengukuran panjang badan dan lingkar kepala menjadi bentuk pemeriksaan sederhana untuk mengetahui status gizi anak.

"Pemeriksaan ini harus rutin dilakukan setiap bulan dalam tahun pertama. Tiap tiga bulan pada tahun kedua. Dan tiap enam bulan pada tahun 4-5," terang Damayanti.

Pemberian makan di waktu yang tepat dengan asupan baik memenuhi kebutuhan nutrisi bayi punya peran penting menentukan status gizi bayi.

"Makanan bayi pengaruhi pertumbuhan otak. Pemberian makan yang benar terutama di 1.000 hari pertama kehidupan anak menjadi penting. Mulai dengan IMD, ASI eksklusif enam bulan, MPASI mulai enam bulan," terangnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.