Kompas.com - 17/04/2014, 13:23 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com — Tidak semua pelaku kekerasan seksual melakukan aksinya dengan kekerasan. Pada paedofil dan predator anak misalnya, mereka sering kali menampakkan sikap lembut, baik, dan suka bermain dengan anak. Sikap yang lembut itu merupakan tipu daya agar anak menuruti keinginannya.

Demikian menurut dokter spesialis kejiwaan, Naek L Tobing. Ia mengatakan, sikap paedofil yang lembut kepada anak merupakan topeng dari kekerasan yang ada di dalam dirinya. Kekerasan seperti keinginan melakukan sodomi disembunyikan dengan sikap sayang kepada anak-anak yang mungkin melebihi dari orang-orang di sekitarnya.

"Itulah sebabnya mereka kebanyakan justru bekerja di tempat-tempat yang sangat erat hubungannya dengan anak, misalnya taman kanak-kanak, sekolah, rumah singgah bagi anak-anak telantar," katanya saat dihubungi Kompas Health, Kamis (17/4/2014).

Menurut Naek, tidak ada ciri-ciri fisik khusus pada paedofil. Namun, sebaiknya orangtua perlu curiga jika perilaku seseorang terlalu baik kepada anak. Orangtua juga wajib memberikan pendidikan seks secara dini kepada anak.

Anak sebagai individu yang belum mencapai taraf kedewasaan belum mampu menilai sesuatu sebagai tipu daya atau bukan. Oleh karena itu, mereka perlu dibekali pendidikan seks.

Dikutip dari Council of Europe, pendidikan seks dasar yang harus diajarkan pada si kecil, antara lain, mengajarkannya bahwa tubuh mereka harus dijaga dan dilindungi, perbedaan sentuhan yang pantas dan tidak pantas dilakukan, perbedaan rahasia baik dan buruk, dan mengajarkan cara bereaksi terhadap tindakan mencurigakan.

Lebih lanjut, Naek menjelaskan, paedofilia merupakan kelainan seksual yang dicirikan dari memiliki hasrat seks terhadap anak-anak. Penyalurannya bisa melalui pemerkosaan terhadap anak perempuan dan sodomi terhadap anak laki-laki. Paedofilia juga bisa berarti kombinasi dari keduanya. Namun, tak hanya pria, menurutnya paedofilia juga bisa terjadi pada wanita dewasa.

Ia menambahkan, paedofilia tidak terlalu dipengaruhi oleh genetika, tetapi oleh pengalaman seksual. Artinya, ketika seseorang mendapat pengalaman seksual untuk pertama kali dengan cara sodomi dan menemukan kenikmatan, kemungkinan besar ia tidak ingin mencoba pengalaman seksual yang lain.

"Namun, jika tingkatan paedofilia seseorang belum 100 persen dan mendapat terapi yang tepat, ia bisa dicegah untuk tidak menjadi pelaku kekerasan seksual pada anak, meskipun mungkin keinginan mereka untuk melakukan sodomi itu tidak bisa hilang," kata konselor seks dari University of Minnesota, Minneapolis, Amerika Serikat, ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.