Kompas.com - 07/06/2014, 11:11 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Berbicara merupakan kemampuan dasar manusia untuk berkomunikasi dan memahami informasi. Hal ini tentu berpengaruh besar pada kecerdasan. Meski begitu, gangguan berbicara dan bahasa merupakan salah satu bentuk gangguan tumbuh kembang yang kini banyak dialami anak.

Diperkirakan sekitar 6 persen anak mengalami gangguan bicara, tetapi ada juga yang melaporkan angkanya sampai 19 persen. Biasanya gangguan ini lebih sering dialami anak laki-laki.

Di Indonesia, data yang dikumpulkan dari 7 rumah sakit pendidikan di seluruh Indonesia tahun 2007 menunjukkan, gangguan bicara dan bahasa menempati urutan pertama bentuk gangguan tumbuh kembang anak.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di sekitar kota Bandung, Jawa Barat, terungkap angka gangguan tumbuh kembang anak lebih sering ditemukan di desa (30 persen) ketimbang di kota (19 persen).

"Salah satu penyebabnya adalah faktor pola asuh. Anak di desa biasanya sampai usia 2 tahun selalu digendong tanpa distimulasi. Akibatnya anak jadi terlambat berjalan dan juga bicara," kata Dr.Eddy Fadlyana, Sp.A(K), dalam acara media workshop yang diadakan oleh Morinaga di Jakarta (6/6/14).

Ia menambahkan, ada banyak hal yang bisa menyebabkan anak terlambat bicara antara lain kurang stimulasi, ada gangguan pendengaran, atau karena kurang gizi sejak dalam kandungan.

"Mayoritas gangguan tumbuh kembang anak bermula dari masa perinatal atau kehamilan dan neonatal atau kurang nutrisi setelah dilahirkan," kata Ketua UKK Tumbuh Kembang Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia ini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Faktor kemiskinan juga berdampak besar. Menurut Eddy, banyak anak yang mengalami komplikasi saat dilahirkan dan memerlukan rujukan tapi tidak dapat memenuhinya karena alasan biaya. Akibatnya anak mengalami retardasi mental.

"Perjalanan tumbuh kembang anak harus dipantau karena sulit diprediksi akhirnya. Ada anak yang awalnya normal tapi karena kurang stimulasi jadi mengalami gangguan. Ada juga penyakit regresi yang baru muncul di usia tertentu, misalnya autisme," paparnya.

Karena itu setiap orangtua harus menganggap anaknya beresiko mengalami gangguan sehingga aktif memantau tumbuh kembangnya. Jika ada masalah sekecil apa pun bisa cepat diketahui dan lebih cepat ditangani.


Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Konstipasi
Konstipasi
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Nyeri Punggung

Nyeri Punggung

Penyakit
13 Gejala Pembengkakan Hati yang Perlu Diwaspadai

13 Gejala Pembengkakan Hati yang Perlu Diwaspadai

Health
Osteomalasia

Osteomalasia

Penyakit
4 Cara Menghilangkan Lemak Perut Saran Ahli

4 Cara Menghilangkan Lemak Perut Saran Ahli

Health
Sakit Gigi

Sakit Gigi

Penyakit
Pendarahan Otak Bisa Menyebabkan Kematian, Cegah dengan Cara Berikut

Pendarahan Otak Bisa Menyebabkan Kematian, Cegah dengan Cara Berikut

Health
Anodontia

Anodontia

Penyakit
Mengapa Demam Bisa Membahayakan Pasien Kanker?

Mengapa Demam Bisa Membahayakan Pasien Kanker?

Health
Sakit Kepala Tegang

Sakit Kepala Tegang

Penyakit
Memahami Penyebab dan Gejala Infeksi Usus Buntu

Memahami Penyebab dan Gejala Infeksi Usus Buntu

Health
Inkompatibilitas ABO

Inkompatibilitas ABO

Penyakit
3 Aktivitas yang Membawa Risiko Tinggi Covid-19

3 Aktivitas yang Membawa Risiko Tinggi Covid-19

Health
3 Perubahan Pada Kuku yang Menandakan Anda Pernah Terpapar Covid-19

3 Perubahan Pada Kuku yang Menandakan Anda Pernah Terpapar Covid-19

Health
Pandangan Kabur

Pandangan Kabur

Penyakit
Mata Berair

Mata Berair

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.