Kompas.com - 22/11/2014, 16:00 WIB
Peta global tingkat kebahagiaan negara DailyMailPeta global tingkat kebahagiaan negara
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Kita semua memimpikan hidup yang panjang dan bahagia di lingkungan yang bersih, teratur, dan udaranya bersih. Sebenarnya, di manakah tempat yang paling membuat bahagia di dunia?

Sebuah indeks dari 151 negara di dunia mengungkapkan secara jelas bagian dunia mana yang memberikan kehidupan yang panjang dan bahagia bagi warga negaranya.

Hasilnya mungkin akan mengejutkan Anda, Kosta Rika, Kolombia dan Vietnam berada di peringkat teratas dalam  kompetisi tersebut. Indonesia sendiri berada di urutan ke-15. Sedangkan Inggris menempati posisi ke-44,  lebih tinggi dibandingkan Jerman (47), Spanyol (62), Kanada (65), Australia (76) dan AS (105).

Peta tersebut disusun oleh situs relokasi Movehub yang menggunakan data dari Happy Planet Index (HPI), sebuah pengukuran global kesejahteraan yang berkelanjutan.

Paramater pengukuran tersebut memang bukan hanya kekayaan, tapi sejauh mana negara tersebut memberikan harapan hidup yang baik, bahagia, jejak ekologis.

Dalam peta dunia yang ditampilkan, ukuran itu dibuat sesuai dengan lampu lalu lintas, hijau untuk prestasi baik, kuning untuk nilai mengenah dan merah berarti buruk. Dalam pengumpulan data ini peneliti meminta secara langsung  pandangan orang di tiap negara.

Berikut adalah tiga komponen yang dinilai:

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kesejahteraan:  Dalam parameter ini responden diminta membayangkan harapan hidup di sebuah negara tersebut seperti halnya meniti anak tangga. Di mana 0 mewakili kehidupan yang terburuk dan 10 kehidupan terbaik.

Harapan hidup: Di samping kesejahteraan , Happy PIanet Indeks juga memasukkan ukuran universal penting dari kesehatan dan harapan hidup. Peneligi menggunakan data harapan hidup dari UNDP Laporan Pengembangan Manusia pada 2011.

Jejak ekologis : HPI menggunakan jejak ekologis yang dipromosikan oleh badan amal lingkungan (WWF) sebagai ukuran konsumsi sumber daya. Ini adalah ukuran per kapita dari jumlah lahan yang dibutuhkan untuk mempertahankan pola konsumsi suatu negara.

Dua dari ketiga faktor tersebut mengarah langsung pada kebahagiaan. Sementara jejak ekologis dianggap sebagai keberkelanjutan, yaitu apakah suatu negara dapat menjaga warga negaranya tanpa bantuan dari luar.

Peta itu juga tidak memperhitungkan ukuran internal ketidaksetaraan dan isu-isu hak asasi manusia di mana beberapa negara seperti Suriah, Irak dan Arab Saudi mempunyai angka yang sangat tinggi. (Eva Erviana)


Sumber Dailymail
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X