Kompas.com - 06/12/2014, 11:12 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Ada sebagian orang yang langsung merasa tidak cocok dengan rokok saat pertama kali mencobanya. Tapi, bagi sebagian besar orang berhenti merokok adalah pertempuran yang tidak pernah berakhir. Apa yang membedakan kedua kelompok orang tersebut?

Sekarang hanya dengan melihat otak seseorang lewat pemindaian MRI, para ilmuwan berhasil mengidentifikasi perokok yang terus menerus kembali ke kebiasaannya menghisap tembakau.

Mereka yang balik lagi merokok dalam seminggu setelah merokok, menunjukkan perubahan signifikan dalam otak mereka ketika mereka "puasa" rokok.

Perubahan tersebut tidak ditemukan pada orang yang sukses berhenti merokok. Perbedaan itu terlihat pada sistem memori kerja otak. Ini adalah bagian dari jaringan otak yang membuat orang fokus dan memiliki pengendalian diri.

Pada orang yang kesulitan berhenti merokok, terdapat sedikit aktivitas di daerah otak pengendalian diri tadi. Menurut para ahli, mengidentifikasi perubahan dalam otak itu bisa memprediksi kesuksesan berhenti merokok pada mereka yang gagal pada tahap awal.

Terobosan ini juga dapat membantu para peneliti menemukan cara-cara baru untuk membantu perokok berhenti. Tes baru itu diakui memiliki tingkat akurasi  80 persen.

Kebanyakan orang yang berhasil tidak merokok selama seminggu juga bisa membuat hidupnya bebas tembakau setidaknya untuk enam bulan setelah itu. Oleh karena itu, memberikan dukungan kepada seseorang dalam tujuh hari pertama sangatlah penting.

Ini adalah pertama kalinya para ahli mengamati perubahan memori kerja otak , yang disebabkan karena tidak merokok, dan telah digunakan untuk secara akurat memprediksi kekambuhan pada perokok.

Penulis utama studi tersebut, Profesor James Loughead, "Respon saraf untuk berhenti bahkan setelah satu hari dapat memberikan kita informasi berharga. Dokter bisa membuat strategi yang lebih personal kepada perokok."

WHO mencatat, secara global lima juta meninggal dalam setahun sebagai akibat langsung dari tembakau, dan 600.000 orang atau lebih mati akibat menjadi perokok pasif.

Dalam studi tersebut, peneliti menggunakan scan MRI untuk mengeksplorasi secara singkat bagaimana cara berhenti merokok berdampak pada kerja memori.

Penelitian lainnya mengungkapkan, perokok yang mengalami sensasi "nagih" nikotin sering kesulitan mengubah kerja otaknya untuk lebih mengendalikan dirinya.  (Eva Erviana)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Dailymail

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.