Kompas.com - 18/02/2015, 09:00 WIB
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com - Alergi bisa dipicu oleh berbagai hal, termasuk faktor lingkungan kerja yang penuh paparan zat kimia. Tak heran jika saat ini kasus pekerja yang menderita alergi akibat lingkungan kerja terus meningkat.

“Setiap orang bekerja rata-rata 40 jam per minggu. Sepertiga hidupnya di tempat kerja, dan lingkungan kerja amat berbeda dengan lingkungan rumah,” kata dr. Astrid Sulistomo, spesialis kedokteran okupasi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam acara paparan terbaru studi ekonomi kesehatan di Indonesia di Jakarta (17/2/15).

Astrid menjabarkan, secara global asma menjadi reaksi alergi terbanyak di lingkungan pekerja. Hal ini membuat para pekerja menjadi tidak produktif. Karena serangan asma, seseorang tidak masuk kerja. Dari segi produktivitas, perusahaan mengalami kerugian.

Di beberapa tempat kerja, ada yang menjadi penyebab alergi pada karyawannya secara signifikan. “Paling tinggi (angka alergi pada karyawan) yakni di pabrik deterjen, bisa hampir  50 persen alergi. Kedua yakni di perusahaan bakery atau tepung roti, sebesar 30 persen,” terang Astrid.

Biasanya, alergi pada pekerja tidak melalui proses alergi sensitisasi atau turunan keluarga. Inilah yang mengkhawatirkan dari meningkatnya penderita alergi. Selain asma, reaksi alergi tampak pada kulit. Alergi pada kulit dinilai lebih mudah dikenali daripada asma atau gangguan pernapasan.

“Untuk kulit juga banyak, khususnya dari zat kimia. Kelainan kulit ada dua, pertama yaitu iritasi dari bahan kimia yang keras. Kedua, alergi. Alergi ini mulai dari yang ringan seperti biduran atau merah-merah lalu hilang lagi. Untuk alergi berat, bisa terjadi luka,” ujarnya.

Perlindungan saat kerja

Meskipun memakai alat pelindung kerja seperti masker, orang yang sudah terpapar alergen sekecil apa pun tetap rentan terhadap asma. Astrid mengungkapkan pilihan yang muncul dari kondisi tersebut.

“Pilihannya yakni dia tidak bekerja di tempat yang ada pemicu alergi. Ada saja yang tidak mau pindah dari pekerjaannya karena keahliannya, namun tetap perlu diberi tahu risikonya. Tidak mungkin diobati terus, sekali alergi tetap alergi, tidak bisa hilang. Selebihnya itu pilihan masing-masing,” tutur Astrid.

Memiliki riwayat alergi atau tidak, pekerja harus tahu bekerja dengan bahan kimia apa saja. Banyak pekerja sering kontak dengan bahan kimia tertentu. Oleh karena itu, dokter okupasi akan menjelaskan kemungkinan penyebab alergi di tempat kerja.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.