Kompas.com - 09/06/2015, 15:00 WIB
Balai Pengawasan Obat dan Makanan DIY saat menyambangi pedagang takjil di lembah ugm KOMPAS.com/wijaya kusumaBalai Pengawasan Obat dan Makanan DIY saat menyambangi pedagang takjil di lembah ugm
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS — Menjelang bulan puasa Ramadhan, masyarakat diimbau agar berhati-hati memilih penganan buka puasa. Itu karena banyak penganan mengandung zat kimia berbahaya seperti boraks dan formalin beredar di pasaran.

Pakar gizi Tirta Prawita Sari mengatakan, beberapa tahun terakhir ini, di banyak penganan buka puasa ditemukan kandungan zat kimia. Jika dikonsumsi masyarakat, zat itu bisa menyebabkan kanker, gagal ginjal, dan gangguan fungsi hati.

"Rhodamin B biasa dipakai pewarna kain. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melarang penggunaan Rhodamin B pada makanan. Namun, di Indonesia, Rhodamin B banyak ditemukan pada makanan, terutama jajanan buka puasa," kata Tirta, yang juga pengurus Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi (GMSG), dalam diskusi "Pangan dan Kesehatan", Minggu (7/6) di Jakarta.

Menurut Tirta, ada perubahan perilaku masyarakat Indonesia saat bulan puasa, yakni peningkatan konsumsi makanan. Saat berbuka puasa, aneka makanan dilahap tanpa mempertimbangkan risiko bagi kesehatan. "Buka puasa cukup dengan satu gelas air putih, beberapa kurma, dan makan nasi secukupnya. Intinya, asupan gizi harus seimbang," kata Tirta.

Pengurus Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Neny Rochyany, memaparkan, hal penting yang harus diperhatikan saat membeli penganan buka puasa adalah produk bebas dari bahan kimia, bebas bakteri, dan tak bercampur dengan benda lain. Selain itu, kebersihan tempat berjualan dan pedagang perlu diperhatikan.

Ia mencontohkan, warung kaki lima biasanya menggunakan air di satu ember untuk mencuci semua piring. Akibatnya, piring tak bersih karena air yang digunakan sudah bercampur bekas makanan. Penggunaan satu alat seperti pisau dan sendok untuk semua makanan menyebabkan makanan terpapar bakteri.

Maraknya penggunaan zat kimia pada makanan, menurut psikolog Nunki Suwardi, karena lemahnya pengawasan. Pemerintah juga dinilai reaktif dan tak menyelesaikan masalah sampai tuntas. Pada kasus beras plastik, misalnya, pemerintah belum mengumumkan apa benar beras bercampur plastik atau tidak dan informasi antarlembaga pemerintah berbeda-beda.

Kasus penggunaan zat kimia dalam penganan buka puasa juga disebabkan pengawasan keamanan pangan lemah dan minimnya edukasi tentang bahaya zat kimia bagi kesehatan. Akibatnya, makanan berbahan kimia tetap laris di pasaran. (B04)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.