Rendah, Keberhasilan Program Bayi Tabung untuk Wanita di Atas 40 Tahun

Kompas.com - 17/06/2015, 11:50 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Peluang karier yang lebih baik atau belum menemukan jodoh yang ideal sering menjadi alasan banyak wanita terus melajang sampai usia matang. Padahal, seiring dengan usia tingkat kesuburan wanita akan terus berkurang.

Meski teknologi kedokteran telah meningkatkan peluang keberhasilan program bayi tabung, namun wanita yang berusia di atas 40 tahun tetap memiliki tingkat keberhasilan yang rendah.

Wanita berusia 44 tahun ke atas tidak disarankan melakukan program bayi tabung menggunakan sel telur mereka sendiri. Tingkat keberhasilan dalam kehamilan dan persalinan di usia ini sangat rendah karena kualitas sel telur sudah turun seiring dengan usia.

Untuk menyiasatinya, para ahli menyarankan agar wanita yang ingin memiliki anak dengan program kehamilan di atas usia 44 tahun untuk mempertimbangkan donor sel telur.

Kesimpulan itu didapatkan dari penelitian yang berlangsung selama 12 tahun, salah satu dari penelitian besar yang menganalisa angka keberhasilan persalinan bayi pada wanita di atas usia 38 tahun.

Saat ini wanita berusia di atas 38 tahun memang semakin banyak yang tertarik untuk mendapat kehamilan dengan program bayi tabung.

Di negara maju, saat ini juga banyak wanita yang memilih untuk membekukan sel telur mereka di usia muda karena mereka belum tertarik untuk menikah. Minat wanita di Inggris terhadap prosedur ini naik sampai 400 tahun dibandingkan tahun lalu.

Penelitian menunjukkan, angka kumulatif kelahiran atau jumlah bayi hidup yang lahir setelah satu embrio segar dan satu embrio yang dibekukan ditransfer ke rahim wanita dalam program bayi tabung, turun sekitar 23,6 persen pada wanita berusia 38-39 tahun. Angkanya lebih rendah lagi pada wanita yang berusia di atas 44 tahun.

Meski begitu, pada pasien yang mendapatkan donor sel telur tidak ditemukan penurunan angka keberhasilan. Hal ini diduga karena kualitas dan usia sel telur jauh lebih penting dalam tingkat keberhasilan, dibandingkan dengan usia biologis pasien.

Di Indonesia, prosedur membekukan sel telur sudah bisa dilakukan. Prosedur ini juga bisa membantu pasien kanker yang harus menjalani kemoterapi di usia muda. Sel telur mereka bisa diambil untuk disimpan sehingga tidak akan mengalami kerusakan akibat proses kemoterapi.

Di masa depan, jika mereka akan menikah, mereka bisa mengambil sel telur itu untuk dibuahi dengan sel sperma suaminya lewat program bayi tabung. Sementara itu, prosedur donor sel telur dan sel sperma masih dilarang di sini.


Sumber Dailymail
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X