Kompas.com - 26/09/2015, 16:43 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com – Anak-anak yang memiliki asma sebaiknya berada jauh-jauh dari asap rokok. Sayangnya, anak-anak justru sering terpapar asap rokok dari tempat tinggalnya sendiri, yakni ketika ayah atau ibunya merokok. Asap rokok hanya akan membuat kesehatan paru-paru anak memburuk.

Tim peneliti menganalisa 25 studi yang melibatkan lebih dari 430 ribu anak-anak. Anak-anak yang memiliki asma 66 persen berisiko tinggi mengalami kesehatan yang memburuk jika menjadi perokok pasif dan sekitar 85 persen berisiko menjalani perawatan di rumah sakit dibanding anak-anak yang tidak tinggal dengan perokok.

Mereka akan mengalami risiko tiga kali lipat memburuknya fungsi paru-paru dan 32 persen lebih tinggi terkena gejala mengi jika berada di sekitar perokok.

Peneliti senior dokert Avni Joshi yang juga seorang ahli alergi dan imunologi di Mayo Clinic Children’s Center di Rochester, Minnesota mengatakan, kebiasaan orangtua merokok depan anak juga memungkinkan anak merokok pada usia lebih muda. Merokok depan anak kebanyakan dilakukan oleh seorang ayah perokok.

"Anak-anak juga belajar dari perilaku orangtua. Mereka tidak akan mulai merokok diri jika tidak mengamati orangtuanya menggunakan tembakau,” kata Joshi.

Menurut WHO, diperkirakan 235 juta orang di seluruh dunia menderita asma. Asma merupakan penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan. Serangannya bisa tiba-tiba sesak napas dan mengi. Saat serangan terjadi, lapisan tabung bronkial membengkak, terjadi penyempitan saluran udara sehingga membatasi aliran udara keluar dan masuk dari paru-paru.

Serangan asma bisa dipicu berbagai hal, mulai dari menghirup racun, infeksi virus, alergi, aktivitas fisik dan perubahan cuaca. Asma bisa dikendalikan dengan minum obat, tetapi bisa berdampak buruk jika dibiarkan.

Penyebab anak asma sering kali dikaitkan pada paparan asap rokok dan polusi udara lainnya. Bisa juga karena infeksi saluran napas tertentu yang bisa terjadi pada anak-anak di usia sangat muda.

“Asap tembakau adalah campuran kompleks dari racun, karsinogen dan sesuatu yang menyebabkan iritasi," ujar Sam Oh, seorang peneliti tembakau dari University of California, San Francisco.

Sementara itu, dokter Annie Lintzenich Andrews, seorang peneliti pediatri dari Medical University of South Carolina di Charleston berharap, penelitian ini bisa memicu para orangtua untuk berhenti merokok. Mereka tentu tidak mau anak terkena asma atau bahkan sering bolak-balik ke rumah sakit karena masalah asma.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber foxnews

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.