Kompas.com - 12/10/2015, 15:57 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com — Orangtua, guru, dan pendamping sering kali memiliki keterbatasan dalam mengawasi anak-anak.  Karena itu, sangat penting untuk mengajarkan anak bagaimana melindungi dirinya sendiri dari ancaman predator seksual dan pelaku kekerasan. Peran orangtua dan guru sangat vital untuk dapat meneruskan keterampilan berikut ini kepada anak-anak.

1. Tubuhmu adalah milikmu. Tidak boleh ada seorang pun menyentuhnya tanpa seizinmu. Ajarkan mereka tentang dasar-dasar seksualitas dan mana bagian tubuh yang bersifat sangat privat. Gunakan istilah dan kata-kata yang sesuai usia anak. 

2.  Sentuhan yang aman dan yang tidak. Ajarkan anak untuk bisa membedakan mana sentuhan yang aman dan sopan serta mana yang tidak aman dan tidak senonoh. Katakan bahwa tidak baik jika seseorang menyentuh orang lain dengan jenis sentuhan yang tidak senonoh, apalagi di bagian privat.

3.  Strategi "tidak! pergi! adukan!" Anak harus diajarkan dan dilatih untuk secara spontan serta sangat tegas berkata "tidak!" untuk sentuhan yang tidak pantas dari siapa pun, lalu "pergi" segera dari situasi yang tidak aman, kemudian "adukan" secepatnya kepada orangtua, guru, dan pendamping yang tepercaya.

4. Ajarkan mana rahasia yang aman dan boleh disimpan, lalu mana rahasia berbahaya yang harus dibagi kepada orangtua dan guru bahwa ada rahasia yang justru membuat anak semakin tidak aman jika disimpan sendiri.  Berahasia adalah taktik pelaku untuk melindungi dirinya.

5. Pelaku adalah orang yang dikenal dekat oleh anak dan keluarga. Bagi anak yang masih berusia muda, sangat sulit baginya untuk menerima bahwa om dan tante yang tampaknya sayang kepadanya dapat berbuat kejam. Beri pengertian menggunakan bahasa yang mereka mengerti bahwa itu tidak selalu benar.

Tanamkan bahwa semua pemberian dari orang lain, termasuk dari kerabat dekat, ajakan untuk berduaan, dan permainan rahasia-rahasiaan harus dilakukan di rumah, di depan, dan seizin ayah ibunya. Beri tahu alasannya, mengapa Anda membuat peraturan itu, dan gunakan bahasa kanak-kanak.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

6. Pelaku juga bisa orang asing. Meskipun jarang, anak harus tetap tahu risiko kemungkinan penculikan oleh orang asing. Mereka harus tahu bahwa orang asing itu sering tampil normal, ramah, dan murah hati. Instruksikan anak untuk tidak mau berkendara dengan orang asing, segera lari ke rumah, ke ruang guru, atau toko, atau tempat lain yang banyak orang, ketika ada orang asing mendekat. Ajari mereka cara meminta tolong dan menarik perhatian orang-orang sekitar, ketika dia merasa terancam.

Anak sering berlari ke arah yang salah. Mereka cenderung berlari dan bersembunyi ke tempat sepi, seperti main petak umpet. Perbuatan ini justru menambah bahaya. Pelaku akan senang melihat targetnya di tempat sepi, jauh dari lindungan masyarakat umum. Tanamkan kepada anak bahwa tindakannya itu salah, dan terangkan alasannya.

7. Miliki komunikasi yang jujur, manis, dan terbuka dengan anak-anak agar mereka terdorong untuk jujur kepada Anda jika terjadi hal yang buruk atau berpotensi buruk. Bangun hubungan berlandaskan rasa saling menghormati dan percaya dengan anak, anggota keluarga, tetangga, dan guru yang tepercaya. Mereka-mereka ini dapat ikut melindungi anak ketika Anda tidak ada.

8. Saling bantu. Dorong empati, persahabatan, dan hubungan saling peduli antara anak dan teman-temannya. Teman-teman juga dapat menjadi sumber bantuan, ketika anak membutuhkan pertolongan.


Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Kejang Demam
Kejang Demam
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tidak Mengalami KIPI, Apakah Vaksin Covid-19 Tetap Bekerja?

Tidak Mengalami KIPI, Apakah Vaksin Covid-19 Tetap Bekerja?

Health
Malnutrisi

Malnutrisi

Penyakit
Penyebab Nyeri Dada pada Wanita yang Harus Diwaspadai

Penyebab Nyeri Dada pada Wanita yang Harus Diwaspadai

Health
Anosmia

Anosmia

Penyakit
Cara Menurunkan Berat Badan dengan Cuka Apel

Cara Menurunkan Berat Badan dengan Cuka Apel

Health
Pantat Pegal

Pantat Pegal

Penyakit
12 Tanda Awal Kehamilan, Tak Melulu Menstruasi Terlambat

12 Tanda Awal Kehamilan, Tak Melulu Menstruasi Terlambat

Health
Perut Buncit

Perut Buncit

Penyakit
Ini Alasan Usia Kehamilan Bisa Lebih Tua dari Usia Pernikahan?

Ini Alasan Usia Kehamilan Bisa Lebih Tua dari Usia Pernikahan?

Health
Kulit Belang

Kulit Belang

Penyakit
10 Cara Mengobati Penyakit Perlemakan Hati Secara Alami

10 Cara Mengobati Penyakit Perlemakan Hati Secara Alami

Health
Betis Bengkak

Betis Bengkak

Penyakit
Kapan Sebaiknya Pemeriksaan Kesehatan Dilakukan Saat Merencanakan Kehamilan?

Kapan Sebaiknya Pemeriksaan Kesehatan Dilakukan Saat Merencanakan Kehamilan?

Health
Pusar Sakit

Pusar Sakit

Penyakit
9 Cara Mudah Cegah Jet Lag

9 Cara Mudah Cegah Jet Lag

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.