Kompas.com - 23/11/2015, 14:21 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
EditorLusia Kus Anna
KOMPAS.com - Penyakit pneumonia atau radang paru sebenarnya bisa dicegah dan diobati. Tetapi, di Indonesia penyakit ini masih menjadi penyebab kematian balita terbesar kedua setelah diare.

Kuman penyebab pneumonia, yakni bakteri Streptococcus pneumoniae menular melalui percikan air liur, batuk, atau udara yang mengandung kuman.

Jika tidak segera mendapat penanganan, pneumonia bisa menyebabkan komplikasi serius, termasuk kematian pada balita.

Untuk mencegah penularan, mengajarkan agar anak selalu mencuci tangan sebelum makan dan menjaga kecukupan gizi agar daya tahan tubuh anak kuat sangatlah penting.

Imunisasi juga perlu diberikan. Manfaat vaksin tersebut adalah menurunkan risiko penularan kuman Streptococcus pneumoniae. Selain menyebabkan pneumonia, kuman ini juga bisa menimbulkan penyakit lain seperti meningitis dan penyakit yang relatif lebih ringan, misalnya sinusitis atau radang telinga.

Vaksin untuk pneumonia antara lain pneumococcal conjugate vaccine (PCV). Namun sayangnya harga vaksin ini relatif mahal sehingga belum bisa menjangkau semua lapisan masyarakat.

Pemerintah memang telah meluncurkan vaksin Pentavalen yang merupakan kombinasi untuk mencegah difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, dan Hib.

Harga vaksin Pentavalen buatan Bio Farma ini relatif murah, bahkan di Puskesmas bisa didapatkan gratis.

Tetapi, menurut Dr.Maria Guevara, perwakilan Meiecins Sans Frontieres (Dokter Lintas Batas) untuk wilayah ASEAN, vaksin ini tidak melindungi dari pneumonia.

"Hib tidak melindungi dari bakteri streptococcus yang merupakan penyebab pneumonia," katanya.

Selain bayi dan balita, orang lanjut usia sebagai kelompok yang rentan juga perlu mendapatkan vaksin PVC.

Meski sudah ada vaksin khusus untuk pneumonia, namun menurut dr.Rifan Fauzi, Sp.A, orangtua tetap harus memberikan vaksin lain untuk anak.

"Jangan lupakan imunisasi dasar untuk anak seperti pertusis atau campak. Jika anak terjangkit pertusis bisa juga terkena pneumonia. Penyakit campak juga bisa membuat daya tahan tubuh anak sangat rendah sehingga berpotensi terkena infeksi sekunder seperti pneumonia," ujar Rifan.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X