Kompas.com - 05/02/2016, 13:16 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Indeks massa tubuh (IMT) mungkin bukan indikator akurat untuk mengukur risiko seseorang akan penyakit jantung atau diabetes. Demikian penemuan dari sebuah studi baru.

Angka IMT seseorang diperoleh dengan membagi berat badan dalam satuan kg dengan kuadrat tinggi badan dalam satuan meter. IMT normal bila angka IMT di bawah 25. Di antara 25 dan 29, seseorang disebut mengalami overweight. Sedangkan di atas 30, seseorang dianggap menderita obesitas. 

Hasil penelitian itu menemukan, sekitar 75 juta orang dewasa di AS mungkin mengalami salah klasifikasi. Risiko mereka terkena sakit jantung atau diabetes mungkin lebih tinggi atau rendah dari yang terindikasi lewat indeks massa tubuh.

Penemuan baru itu membuktikan indeks massa tubuh adalah alat ukur kesehatan yang punya kelemahan.

Agar tetap sehat, masyarakat harus memprioritaskan pola makan sehat, aktif bergerak dan cukup tidur, bukan fokus pada berat badan. Demikian pendapat peneliti Jeffrey M. Hunger, kandidat doktor dari University of California, Santa Barbara.

Dalam studi tersebut periset meneliti indeks massa tubuh 40 ribu orang dewasa di AS. Mereka juga meneliti data kesehatan "kardiometabolik" yang merupakan risiko sakit jantung dan diabetes, termasuk di dalamnya data tekanan darah tinggi, kadar gula darah, kolesterol, inflamasi dan insulin.

Menurut definisi periset, seseorang dipandang sehat secara kardiometabolik hanya jika memiliki nilai yang baik untuk empat atau lebih indikator tersebut.

Ketika peneliti melihat hubungan antara indeks massa tubuh dan kesehatan kardiometabolik, mereka menemukan hampir separuh orang dengan indeks massa tubuh overweight, 29 persen penderita obesitas dan 16 persen sangat obesitas ternyata memiliki kesehatan kardiometabolik sangat baik.

"Banyak orang melihat obesitas sebagai hukuman mati," kata pemimpin penelitian A. Janet Tomiyama, asisten profesor psikologi dari University of California, Los Angeles. "Tetapi data menunjukkan puluhan juta orang overweight dan obesitas ternyata sehat," lanjutnya.

Ditemukan pula, lebih dari 30 persen orang dengan indeks massa tubuh normal ternyata memiliki kesehatan kardiometabolik tak baik.

Riset sebelumnya pun menemukan menggunakan indeks massa tubuh sebagai alat ukur kesehatan mungkin bermasalah. Salah satunya, studi yang diterbitkan pada 2010 di International Journal of Obesity yang menemukan lingkar pinggang merupakan alat prediksi lebih baik daripada indeks massa tubuh untuk mengukur risiko penyakit jantung anak di masa depan.

Studi lain dari 2014 di jurnal Pediatric Obesity menemukan 25 persen anak obesitas yang didasarkan pada kadar lemak tubuhnya lolos dari kategori obesitas berdasarkan pengukuran indeks massa tubuh.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.