Kompas.com - 22/02/2016, 09:15 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

JAKARTA, KOMPAS.com – Rasanya seperti tersambar petir ketika Pinta Manullang-Pangabean mendengar anak pertamanya, Andrew Maruli David Manullang atau dikenal dengan nama Anyo, didiagnosis kanker darah atau leukemia oleh dokter.

Saat itu Anyo berusia 11 tahun. Namun, Pinta dan suaminya, Sabar Manullang pun tak mau larut dalam kesedihan. “Kita harus cepat bangkit karena kanker itu enggak bisa nunggu, harus segera diobati,” kata Pinta.

 Anyo langsung menempuh pengobatan medis, termasuk menjalani transplantasi sumsum tulang. Kondisi Anyo sempat membaik. Tetapi kemudian kanker muncul lagi. Hingga akhirnya, Anyo meninggal dunia di usia 19 tahun.

“Tuhan ternyata punya rencana indah telah mengizinkan Anyo stop di usia 19 tahun. Kami tidak pernah menyalahkan Tuhan. Anyo juga tidak menyalahkan Tuhan. Itu yang sudah digariskan Tuhan,” kata Pinta.

Menurut Pinta, ketika anak terkena kanker, orangtua harus menerima kenyataan itu terlebih dahulu. Kemudian bicarakan kepada anak mengenai kondisinya. Orangtua harus terus berpikiran positif dan sebaiknya jangan menangis di depan anak. Perasaan sedih hingga menangis suatu hal yang wajar, tetapi jangan terlalu lama dalam kesedihan.

“Kita sebagai ibu harus kuat. Walau memang tak semudah yang saya katakan. Anak itu melihat ibunya. Kalau ibunya kuat, anaknya juga akan kuat,” ujar Ketua Yayasan Anyo Indonesia (YAI) itu. 

Pinta juga mengingatkan, jangan menganggap anak yang terkena kanker sebagai aib. Terbukalah dengan orang di sekitar atau saling bertukar cerita dengan keluarga yang anaknya juga terkena kanker untuk saling menguatkan. Tunjukkan selalu rasa kasih sayang dan kepedulian orangtua.

Jangan terlalu protektif
Daya tahan tubuh anak penyandang kanker memang rendah. Mereka harus menjaga kesehatan agar tak mudah tertular penyakit dari orang lain yang sedang sakit. Kemungkinan kanker muncul kembali pun selalu ada setelah anak selesai menjalani pengobatan pertama.

Akan tetapi, terkena kanker bukan berarti anak tak boleh melakukan ini itu. Jangan terlalu protektif, apalagi melarang anak melakukan kegiatan yang disukai. Menurut Pinta, terlalu protektif bisa membuat anak merasa penyakitnya sebagai beban.

Pinta percaya, setiap anak pasti bisa mengukur dirinya sendiri. Ketika lelah bermain, anak pun akan berhenti dan istirahat. Jangan berlebihan memperlakukan anak sebagai orang yang sakit. 

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.