Konsumsi Pemanis Buatan selama Hamil Berisiko Lahirkan Bayi Obesitas

Kompas.com - 10/05/2016, 14:15 WIB
Ilustrasi. Ilustrasi.
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Para peneliti mempelajari lebih dari 3.000 ibu dan bayi dalam sebuah penelitian jangka panjang di Kanada. Para responden merupakan wanita yang hamil antara tahun 2009 dan 2012.

Para wanita diminta menyelesaikan kuesioner diet pada trimester kedua atau ketiga kehamilan. Lalu, peneliti melanjutkan penelitian hingga para bayi menjalani tahun pertama kehidupan.

Hampir 30 persen responden mengatakan kalau mereka gemar mengonsumsi beberapa minuman pemanis buatan selama kehamilan. Lima persen di antaranya mengatakan mereka mengonsumsinya sekali sehari. Lebih dari 20 persen mengatakan mereka mengonsumsi lebih dari satu minuman bergula per hari.

Lalu, peneliti mengukur tinggi dan berat badan bayi saat mereka berusia satu tahun. Sekitar 5 persen dari bayi ditemukan overweight untuk usia mereka.

Setelah peneliti menghitung berat badan, kualitas diet dan asupan kalori ibu, bayi yang ibunya gemar minum minuman dengan pemanis buatan setiap hari selama kehamilan dua kali lebih mungkin untuk kelebihan berat badan, lapor tim peneliti dalam JAMA Pediatri.

Meskipun pemanis buatan dalam minuman disetujui oleh FDA, wanita hamil sebaiknya mengurangi jumlah asupan minuman ini selama kehamilan," kata pemimpin studi Meghan B. Azad dari Rumah Sakit Anak Research Institute of Manitoba di Winnipeg, Kanada.

“Pemanis buatan dapat disalurkan dari ibu ke anak melalui ASI, kata Azad.

"Selain berdampak pada bayi, wanita yang mengonsumsi minuman dengan pemanis buatan paling mungkin untuk menjadi gemuk atau memiliki diabetes, jadi kami harus memperingati untuk hal itu, lanjut Azad.

Meskipun studi ini hanya meliputi diet soda dan pemanis dalam teh atau kopi, pemanis buatan ini juga dapat ditemukan dalam minuman energi, dan jus kemasan, kata Mark A. Pereira dari University of Minnesota di Minneapolis, yang ikut menulis editorial pada studi.

Walau begitu, penelitian ini belum membuktikan sebab-akibat, hanya ada beberapa kasus yang memiliki hubungan antara minuman dengan pemanis buatan dengan BMI bayi. Sehingga, studi ini tidak sepenuhnya melarang semua orang untuk mengonsumsi pemanis buatan, kata Azad.

BMI pada bayi mungkin tidak menjadi ukuran kesehatan yang terbaik untuk saat ini dan masa depan, meskipun BMI terkait dengan tingkat kesehatan seperti risiko diabetes, kata Azad.

Bayi dalam penelitian ini sekarang telah berusia tiga tahun dan akan ditinjau kembali pada usia lima tahun untuk melihat apakah pola tersebut bertahan.

“Hanya saja, orang yang mengonsumsi banyak minuman dengan pemanis buatan cenderung kelebihan berat badan atau obesitas”, tutup peneliti.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Sumber Reuters
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X