Kompas.com - 04/08/2016, 07:35 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

JAKARTA, KOMPAS.com - Anak bertubuh pendek atau stunting masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Associate Director Community-based Health and Nutrition Project to Reduce Stunting, MCA -Indonesia, Iing Mursalin mengungkapkan, hampir 9 juta atau lebih dari 1/3 balita di Indonesia mengalami stunting.

Sayangnya, masih banyak yang mengira stunting adalah keturunan orangtua atau keluarga. "Anak pendek bukan sepenuhnya keturunan. Banyak anak yang lebih tinggi dari orangtuanya," kata Iing di @America di Jakarta, Rabu (3/8/2016).

 Iing menjelaskan, stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kekurangan gizi dalam waktu lama dan infeksi penyakit berulang pada 1000 hari pertama kehidupan. 
 
Akibatnya, anak stunting memiliki perkembangan otak yang tidak optimal sehingga memengaruhi kecerdasan. Selain itu, di masa mendatang anak stunting lebih berisiko kurang produktif dibanding anak tidak stunting. Mereka juga lebih rentan terkena  penyakit seperti obesitas yang bisa berkembang menjadi penyakit jantung dan diabetes.
 
Iing mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan anak kurang gizi. Salah satunya adalah pemberian ASI yang tidak optimal. Hal senada dikatakan dokter dan konsultan laktasi Falla Adinda.
 
"ASI berperan mencegah stunting. Kurang dari 10 persen saja faktor genetik yang membuag anak pendek, selebihnya adalah gizi," kata Falla.
 
Untuk mencegah stuning, anak harus mendapat cukup gizi pada 1000 hari pertama kehidupan, yaitu dimulai pada masa kehamilan ibu dan anak lahir hingga usia dua tahun.
 
Bayi baru lahir harus diberi ASI eksklusif selama 6 bulan. Kemudian dilanjut dengan pemberian makanan pendamping ASI yang begizi.
 
"Jadi pemberian gizi dan ASI jadi investasi awal anak-anak kita di masa mendatang," kata Iing lagi.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.