Kompas.com - 31/08/2016, 15:21 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani


KOMPAS.com – Tubuh langsing umumnya jadi idaman banyak orang, terutama kaum hawa. Namun, sebagian orang memilih mengonsumsi obat atau melakukan suntik pelangsing demi mencapai bentuk tubuh ideal ini tanpa perlu bersusah payah. Amankah?

Jika obat atau suntikan dilakukan di bawah pengawasan medis mungkin masih terbilang aman. Nyatanya, ada saja orang yang sembarang membeli obat pelangsing tanpa tahu dosis atau bahan-bahan kandungannya.

Beberapa obat pelangsing, misalnya, membuat orang yang mengonsumsinya sering buang air besar. Memang, dalam satu minggu berat badan bisa turun satu sampai dua kilogram. Namun hati-hati, kemungkinan bukan lemak yang dikeluarkan melainkan hanya kotoran dalam usus.

Setiap hari, manusia menumpuk satu kilogram sampai dua kilogram kotoran dalam usus. Jadi, jangan bergirang hati dulu jika berat badan turun. Bisa saja obat pelangsing tersebut hanya "membersihkan" kotoran, bukan meluruhkan lemak tubuh.

"Bisa jadi obat pelangsing itu adalah obat pencahar, bukan pelangsing," kata spesialis penurunan berat badan, Grace Judio, dikutip situs web lighthouse-indonesia.com, Sabtu (21/5/2016).

Obat pencahar seperti berbagai jamu atau teh pelangsing, lanjut Grace, hanya merangsang kontraksi usus besar sehingga buang air besar menjadi lebih lancar.

Menurut Grace, obat pelangsing semacam itu bisa membahayakan kesehatan jika terus dikonsumsi.

Pengalaman seperti itu pernah dialami oleh salah satu pasien Grace. Sebelum memutuskan berkonsultasi dengan dokter, pasiennya membeli sembarang pil pelangsing tanpa resep.

"Dia bercerita pernah meminum obat pelangsing yang menyebabkan sering buang air besar. Memang berat turun satu kilogram pada minggu pertama. Namun, setelah meminum pil selama satu bulan perutnya sering perih," tutur Grace.

THINKSTOCKPHOTOS Karena masih merasa lapar, camilan seperti kue malah dikonsumsi. Padahal, sepotong kue saja mengandung kalori tinggi.

Padahal, menurut Grace, obat pelangsing seharusnya bertugas memusnahkan cadangan lemak, bukan hanya kotoran dalam perut. Lokasi tumpukan lemak di sekitar perut, sebut dia, tidak sama dengan letak kotoran dalam usus.

"Lemak yang sudah 'ditabung' di perut tidak bisa lagi dikeluarkan lewat usus," tegas Grace.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.