Kompas.com - 04/10/2016, 18:07 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Badan kurus, tetapi perut buncit? Bukan berarti Anda terbebas dari risiko penyakit seperti orang obesitas.

Menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal of American College of Cardiology, tumpukan lemak di balik perut menyebabkan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

Hasil penelitian menunjukkan, risiko penyakit tersebut lebih besar pada orang-orang yang memiliki timbunan lemak di perut, dibanding timbunan lemak di daerah lain di tubuh.

Penelitian ini melibatkan 1.106 orang dewasa berusia sekitar 45 tahun. Para peneliti menghitung jumlah lemak di perut masing-masing responden. Setelah mengamati selama 6 tahun, peneliti menemukan peningkatan jumlah lemak berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular.

Selain itu, ekstra lemak juga dikaitkan dengan tekanan darah tinggi, trigliserida tinggi, dan sindrom metabolik.

"Yang benar-benar menarik adalah penelitian menunjukkan, peningkatan jumlah lemak perut dan lemak densitas rendah dikaitkan dengan faktor risiko penyakit jantung," ujar Caroline Fox, peneliti senior yang pernah melakukan penelitian di US National Heart, Lung, dan Blood Institute.

Penelitian juga menunjukkan, mereka yang jumlah lemak di perutnya tinggi, berisiko mengalami peningkatan gula darah, dan rendahnya tingkat kolesterol HDL.

Namun, menurut peneliti, meski lemak di perut berkaitan dengan penyakit kardivaskular, bukan berarti lemak di perut selalu menyebabkan penyakit jantung. Perlu adanya penelitian lebih lanjut.

Peneliti mengatakan, menghitung jumlah lemak di tubuh, termasuk di perut dapat dilakukan dengan mengukur indeks massa tubuh. Idealnya, lingkar perut wanita tak lebih dari 80 cm dan pria tak lebih dari 90 cm.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Penyakit Paget
Penyakit Paget
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rahim Turun

Rahim Turun

Penyakit
6 Jenis Gangguan Pola Tidur dan Cara Mengatasinya

6 Jenis Gangguan Pola Tidur dan Cara Mengatasinya

Health
Herniasi Otak

Herniasi Otak

Penyakit
Sering Menjadi Faktor Risiko Utama, Apa Kaitan Bipolar dan Genetik?

Sering Menjadi Faktor Risiko Utama, Apa Kaitan Bipolar dan Genetik?

Health
Insufisiensi Mitral

Insufisiensi Mitral

Penyakit
Pahami, Ini Dampak Stres Pada Penderita Diabetes

Pahami, Ini Dampak Stres Pada Penderita Diabetes

Health
Sindrom Sjogren

Sindrom Sjogren

Penyakit
Apakah Boleh Suntik Vaksin Covid-19 saat Haid?

Apakah Boleh Suntik Vaksin Covid-19 saat Haid?

Health
Lupus Nefritis

Lupus Nefritis

Penyakit
Bisakah Anak-Anak Mengalami Gangguan Bipolar?

Bisakah Anak-Anak Mengalami Gangguan Bipolar?

Health
Karsinoma Nasofaring

Karsinoma Nasofaring

Penyakit
Kenali Berbagai Gejala Gangguan Bipolar

Kenali Berbagai Gejala Gangguan Bipolar

Health
Pseudobulbar Affect (PBA)

Pseudobulbar Affect (PBA)

Health
10 Penyebab Kram Perut dan Cara Mengatasinya

10 Penyebab Kram Perut dan Cara Mengatasinya

Health
Mengenal Beda Diabetes Tipe 1 dan Diabetes Tipe 2

Mengenal Beda Diabetes Tipe 1 dan Diabetes Tipe 2

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.