Kompas.com - 19/10/2016, 20:35 WIB
Ilustrasi. Ilustrasi.
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Zink (Zinc) atau seng, mineral alami yang ditemukan dalam makanan, sangat penting untuk kesehatan. Namun, mengonsumsinya terlalu banyak dapat menimbulkan efek merugikan, seperti distress usus, muntah dan ruam. Kekurangan zink juga akan menimbulkan masalah.

Penelitian baru yang diterbitkan dalam British Journal of Nutrition menunjukkan, kekurangan zink dalam kadar minimal atau jangka pendek dapat menyebabkan kerusakan yang hampir tidak terdeteksi.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, defisiensi zink memengaruhi sekitar sepertiga dari populasi dunia, dan bertanggung jawab terhadap sekitar 16 persen kasus infeksi saluran pernapasan bawah, 18 persen kasus malaria, dan 10 persen penyakit diare.

Sebuah studi terhadap hewan yang dipimpin oleh Daniel Brugger dari Technical University of Munich meneliti efek defisiensi zink jangka pendek terhadap pencernaan.

Brugger dan timnya memberi makan jagung dan kedelai dengan kandungan zink yang memadai ke 48 ekor anak babi, selama dua minggu. Kemudian, secara acak, peneliti membagi mereka menjadi delapan kelompok.

Setelah itu, babi diberi makan menu dengan jumlah zink yang berbeda-beda dalam rangka untuk menciptakan kondisi defisiensi zink stadium awal.

Para peneliti melihat bahwa deplesi zink terjadi tanpa gejala yang terlihat dengan jelas, tetapi perubahan kecil bisa dilihat di dalam hati dan darah. Selama tahap awal, tubuh anak babi ini mencoba untuk menyerap zink dengan lebih efisien, sementara pada saat yang sama mengurangi ekskresi zink dari pankreas.

Ekskresi zink dari pankreas akan berkurang ketika kita kehabisan stoknya di dalam tubuh. Padahal, zink adalah bagian penting dari sistem pencernaan.

"Kami membuktikan bahwa ada korelasi langsung antara jumlah enzim pencernaan di dalam pankreas dan kadar zink organisme secara keseluruhan," kata Brugger.

"Mengingat ada kesamaan antara organisme babi dan organisme manusia, kita dapat menarik kesimpulan yang sama untuk spesies kita, yaitu bahwa defisiensi zink harus dihindari meski intervalnya singkat."

Kekurangan zink juga terbukti mengurangi nafsu makan. Zink menempel pada enzim lain di dalam tubuh, termasuk pada enzim lambung yang membantu memecah makanan. Kekurangan mineral zink akan mengganggu sistem pencernaan.

Brugger mencurigai hilangnya nafsu makan, mungkin terjadi karena adanya akumulasi makanan yang tidak tercerna di dalam saluran pencernaan, sebagai akibat dari defisiensi zink. Walhasil, orang yang defisiensi merasakan dirinya kurang lapar.

National Institutes of Health merekomendasikan asupan zink delapan sampai 11 miligram setiap hari.

Zink banyak terdapat dalam makanan laut, daging, biji-bijian, dan kacang-kacangan, termasuk kacang polong dan lentil.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X