Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 19/09/2020, 09:10 WIB

KOMPAS.com - Saat harus sendirian dalam waktu yang lama, banyak orang akan merasakan kesepian. Tentu hal ini merupakan sesuatu yang normal.

Tapi, kesepian tidak melulu terjadi akibat sendrian. Banyak orang tetap merasa kesepian meskipun berada di antara banyak orang.

Itu karena kesepian merupakan sebuah emosi yang kompleks ketika merasa tidak diperhatikan, tidak berharga, merasa tidak terhubung dengan orang lain, sendirian, bahkan perasaan tidak dicintai.

Baca juga: Waspada, Bahaya Kesepian yang Tak Bisa Dianggap Sepele

Kondisi ini dapat diartikan sebagai perasaan terpisah dari orang lain atau keadaan pikiran sendirian.

Kesepian memang merupakan hal yang normal. Namun ketika ini dirasakan terus menerus dapat menjadi masalah mental yang kronis.

Apalagi selama enam bulan terakhir, kita merasakan pembatasan sosial akibat Covid-19 yang tidak jarang membuat orang merasa tidak terhubung dengan orang lain dan sendirian.

Ya, saat pembatasan sosial atau social distancing, kita makin membatasi gerak sosial sehingga jarang bertemu dengan teman, kawan, bahkan kerabat.

Dalam hal ini, sangat mungkin banyak orang menjadi measa kesepian.

Kabar buruknya, jika kondisi ini terus berlarut-larut dalam menjadi kronis.

Tak hanya buruk bagi kesehatan mental, kesepian kronis juga bisa mempengaruhi kesehatan fisik.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa ada kaitan kuat antara kesepian dengan sejumlah masalah kesehatan seperti obesitas, penyakit kardiovaskular, tekanan darah tinggi, penyakit kronis, diabetes, dan depresi.

Lebih lanjut, berikut beberapa masalah kesehatan yang mungkin terjadi akibat kesepian.

1. Depresi

Meskipun kesepian berbeda dengan depresi, kesepian dikaitkan dengan gejala depresi.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Social Psychiatry and Psychiatry Epidemiology tahun 2016 menemukan bahwa orang kesepian lebih sering mengalami depresi.

Melansir dari Live Strong, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Lancet pada Januari 2020 juga menemukan hubungan antara kesepian, keterputusan sosial, dan depersi.

Para peneliti menemukan bahwa keterputusan sosial adalah faktor risiko unik untuk kesepian, yang memprediksi gejala depresi yang lebih tinggi pada individu.

Studi tersebut juga mendukung hal yang sebaliknya orang dengan depresi juga lebih cenderung merasa terisolasi.

Baca juga: Bukan Perasaan Sepele, Kesepian Bisa Menyebabkan Kematian

2. Melemahkan sistem imun

Sebuah studi pada Desember 2015 di Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan hubungan antara kesepian dan sistem imun.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kesepian dapat melemahkan respons kekebalan tubuh sehingga menyebabkan lebih banyak peradangan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan risiko penyakit kronis.

Merangkum dari National Institute on Aging, orang yang merasa kesepian lebih mungkin memiliki sel kekebalan tubuh yang lemah dan kesulitan melawan virus. Ini membuat tubuh lebih rentan terhadap beberapa penyakit menular.

Kabar buruknya, hal ini juga berhubungan dengan risiko penularan Covid-19.

Sebuah laporan Juli 2020 di Perspectives on Psychological Science menemukan bahwa stresor antarpribadi, seperti kesepian, terkait dengan peningkatan risiko penyakit, termasuk virus pernapasan.

Dengan kata lain, hal ini menimbulkan kemungkinan kerentanan yang lebih besar terhadap SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID- 19.

3. Diabetes Tipe 2

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetologia tahun 2020 menemukan bahwa orang berusia di atas 50 tahun yang melaporkan tingkat kesepian yang lebih tinggi lebih mungkin untuk mengembangkan diabetes tipe 2 di kemudian hari.

Sayangnya, para peneliti tidak dpaat menjelaskan mengapa hal ini terjadi.

Mereka menemukan bahwa kesepian secara signifikan meningkatkan peluang seseorang untuk mengembangkan tipe 2 terlepas dari faktor risiko lain seperti aktivitas fisik atau tingkat BMI mereka.

4. Penyakit Jantung

Kesepian juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami masalah kardiovaskular.

Sebuah studi Mei 2016 di Heart menemukan sekitar 30 persen lebih tinggi kemungkinan terkena stroke atau penyakit jantung di antara orang-orang yang mendapat skor buruk dalam ukuran hubungan sosial.

Baca juga: 5 Cara Mencegah Kesepian saat Karantina Mandiri

Para peneliti menghubungkan hal ini dengan berbagai faktor perilaku, biologis, dan psikologis, seperti perilaku seperti merokok atau ketidakaktifan fisik yang lebih umum di antara individu yang kesepian.

Merangkum dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), kesepian pada pasien penyakit gagal jantung dikaitkan dengan hampir 4 kali risiko kematian.

5. Tekanan Darah Tinggi

Menurut penelitian yang terbit dalam jurnal Psychology and Aging tahun 2010, prang yang mengalami kesepian mungkin lebih rentan terhadap tekanan darah tinggi.

Namun, hubungan sebab akibat antara keduanya tidak sepenuhnya dipahami.

Meski begitu, hasil ini menunjukkan bagaimana kesepian dapat dikaitkan dengan perubahan awal atau yang lebih dramatis pada arteri.

6. Penurunan Kognitif dan Demensia

Kesepian dapat menimbulkan tantangan unik bagi para orang lanjut usia, menurut laporan National Academies of Sciences, Engineering and Medicine Februari 2020.

Hal ini karena faktor seperti hidup sendiri atau kehilangan keluarga dan teman menaikkan risiko kesepian.

CDC menyebut bahwa kesepian dan isolasi sosial meningkatkan risiko demensia dan penurunan kognitig hingga 50 persen.

Baca juga: Awas, Kesepian Picu Kematian Dini, Begini Cara Mengatasinya

Sebuah studi Agustus 2019 di International Journal of Environmental Research and Public Health menggunakan data dari Survei Longitudinal Healthy Longevity China untuk menyelidiki hubungan antara kesepian dan penurunan kognitif di antara pria dan wanita yang lebih tua di China.

Para peneliti menyimpulkan bahwa kesepian merupakan faktor risiko yang signifikan untuk gangguan kognitif pada pria yang lebih tua, tetapi tidak pada wanita.

Sebelumnya, kesepian dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia 40 persen dalam studi Journal of Gerontology: Psychological Sciences Oktober 2018.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+