Kompas.com - 16/06/2021, 12:04 WIB

dr. Imran Pambudi, MPHM selaku Manajer Program TBC Nasional, juga mengungkapkan bahwa sudah ada upaya yang dilakukan untuk mencoba mengurangi stigma negatif dan diskriminasi terhadap TBC.

Berbagai kegiatan strategis yang telah dilakukan di antaranya, yakni:

  • Identifikasi tantangan mutu pelayanan TBC, data hambatan akses layanan, penguatan respon layanan kesehatan
  • Menciptakan lingkungan bersahabat bagi pasien
  • Edukasi masyarakat terkait TBC untuk menghapus stereotip
  • Memperkuat komunitas dan satgas TBC untuk menciptakan lingkungan tanpa stigma dan diskriminasi TBC

Baca juga: Penyebab TBC yang Perlu Diwaspadai

“Sudah ada pula dua pasal pada Rancangan Peraturan Presiden terkait TBC tentang stigma, yakni pada pasal 12, disebutkan setiap pasien TBC dalam menjalani pengobatan berhak mendapatkan perlindungan terhadap stigma dan diskriminasi terkait penyakitnya, dan pada pasal 13 disebutkan untuk menyediakan layanan TBC yang ramah dan berpihak pada kebutuhan pasien,” tutur dr. Imran.

Meski perlindungan pasien TBC sudah dinilai ideal termasuk di tempat kerja, dan sudah ada dalam berbagai kebijakan di Indonesia, penerapannya di lapangan dianggap masih perlu dievaluasi lagi.

Sebagaimana disampaikan oleh Meirinda Sebayang, perwakilan dari Dewan TBC Komunitas Stop TB Partnership Global.

“Kita sudah memiliki banyak kebijakan yang dapat digunakan sebagai tools untuk advokasi. Tapi, sebaik-baiknya kebijakan, apabila tidak ada pengawalan atau koridor yang memastikan kebijakan tersebut sesuai, tetap akan muncul kemungkinan terjadinya pelanggaran atau ketidaksesuaian dalam implementasinya,” kata dia.

Sementara itu, anggota Komisi IX DPR RI, Putih Sari, berharap bahwa pandemi Covid-19 agar tidak menjadi penghambat dalam penanggulangan TBC. Pemerintah dan pihak-pihak terkait bisa menumpangi penanganan pandemi untuk menanggulangi TBC di Indonesia.

Contoh stigma negatif pasien TBC

Stigma TBC dapat terjadi dari dalam diri pasien maupun dari lingkungan, termasuk di fasilitas kesehatan.

Seorang penyitas TBC, Ani Herna Sari, bercerita pernah mendapatkan perlakukan diskriminatif ketika akan melahirkan. Dia mengaku saat melahirkan ditanganai di ruang isolasi padahal sudah tidak dalam masa penularan TBC resisten obat.

“Saya ditangani di ruangan isolasi untuk mengobati paru-paru saya, bukan di tempat penanganan persalinan. Bayi saya yang baru berusia satu hari mengalami kepala rata di sebelah kanan karena harus minum susu dari botol yang disandarkan, tidak langsung menyusui ibunya,” tutur Ani dalam risil yang dikirim SPTI.

Ani menambahkan bahwa akses layanan TBC sebenarnya sudah tersedia secara gartis. Namun, menurut dia, tidak semua orang mengetahui hal itu sehingga perlu disosialisasikan lebih luas lagi.

Baca juga: 7 Kelompok Orang yang Rentan Terjangkit Tuberkulosis (TBC)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.