Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Mengatasi Burnout pada Tenaga Kesehatan dengan Resiliensi

Kompas.com - 23/06/2022, 08:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Rintan Fauziyyah Alya, S.Psi, Dr. Zamralita, M.M., Psikolog dan Dr. Ir. Rita Markus Idulfilastri, M.Psi.T

PANDEMI COVID-19 menimbulkan dampak perubahan yang besar bagi kehidupan masyarakat di berbagai sektor, salah satunya adalah sektor kesehatan.

Adanya tekanan kerja, beban kerja yang berat, sumber daya yang tidak memadai, serta risiko keselamatan yang rentan terpapar COVID-19 hingga mengancam jiwa, menjadi tantangan luar biasa bagi para tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dalam menangani pandemi COVID-19 yang dapat memengaruhi kesehatan mental, terutama dalam hal kelelahan (burnout) (Cotel, et al., 2021).

Burnout merupakan keadaan kelelahan terkait dengan pekerjaan yang ditandai dengan beberapa gejala (Schaufeli, De Witte, & Desart, 2020), yaitu:

Pertama, kelelahan ekstrem (exhaustion), seperti kekurangan energi untuk memulai pekerjaan baru, merasa terkuras energinya setelah seharian bekerja, dan merasa cepat lelah meskipun hanya menghabiskan sedikit usaha di tempat kerja.

Kedua, berkurangnya kemampuan mengatur proses kognitif (cognitive impairment), meliputi kesulitan untuk berpikir jernih dan mempelajari hal-hal baru di tempat kerja, menjadi pelupa dan linglung, daya ingat yang buruk, berkurangnya konsentrasi, serta kesulitan untuk tetap fokus di tempat kerja.

Ketiga, berkurangnya kemampuan mengatur proses emosional (emotional impairment), mengacu pada kondisi di mana seseorang merasakan kewalahan karena emosi yang dimilikinya.

Keempat, jarak mental (mental distance), meliputi sikap ketidakpedulian dan sinis, sedikit atau tidak ada rasa antusias dan minat terhadap pekerjaan yang dimiliki.

Adapun survei mengenai burnout pada tenaga kesehatan di seluruh Indonesia yang telah dilakukan oleh Program Studi Magister Kedokteran Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (MKK FKUI) pada tahun 2020.

Berdasarkan hasil survei tersebut, ditemukan bahwa sebanyak 83 persen tenaga kesehatan di Indonesia telah mengalami burnout syndrome dengan level sedang sampai berat yang secara psikologis berisiko mengganggu kualitas hidup, dan produktivitas kerja dalam pelayanan kesehatan (Humas FKUI, 2020).

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.