Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Mengatasi Burnout pada Tenaga Kesehatan dengan Resiliensi

Kompas.com - 23/06/2022, 08:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Mayoritas responden (55 persen) yang mengikuti survei penelitian MKK FKUI tersebut, menyatakan pernah menangani pasien COVID-19.

Tenaga kesehatan yang terlibat dalam penanganan atau perawatan pasien COVID-19 memiliki peluang yang jauh lebih tinggi untuk mengalami burnout daripada yang tidak terlibat (Nishimura, Miyoshi, Hagiya, Kosaki, & Otsuka, 2021).

Individu membutuhkan upaya tambahan untuk mencapai tujuan kerja dan untuk mencegah penurunan kinerja (Schaufeli & Taris, 2014), salah satunya dapat menggunakan sumber daya pribadi (personal resources).

Sumber daya pribadi merupakan faktor penting dalam memfasilitasi adaptasi terhadap lingkungan kerja di antara tenaga kesehatan yang memungkinkan mereka untuk mengatasi kondisi kerja yang sangat menuntut (Contreras, Espinosa, & Esguerra, 2020).

Salah satu sumber daya pribadi yang dapat digunakan individu sebagai ketahanan diri dan kontrol diri yang dapat mengurangi burnout, adalah seperti resiliensi (Bakker & de Vries, 2021).

Resiliensi mengacu pada kemampuan individu untuk berkembang meskipun menghadapi kesulitan (Campbell-Sills & Stein, 2007).

Individu dengan resiliensi yang baik, dianggap memiliki karakteristik yang meliputi tahan banting (hardiness), memiliki kontrol diri, kecerdasan emosional, optimis, ketekunan, dan kemampuan untuk menghadapi masalah (Stanley, Buvaneswari, & Arumugam, 2018).

Penelitian yang dilakukan oleh Lee et al. (2019), membuktikan bahwa resiliensi dapat menjadi faktor pelindung untuk mengatur dan mencegah burnout.

Selain itu, penelitian lain yang dilakukan oleh Stanley, Buvaneswari, dan Arumugam (2018) juga menunjukkan bahwa resiliensi dapat menjadi efek penyangga dari stres terhadap burnout.

Artinya, resiliensi menjadi faktor kunci yang memungkinkan individu menghadapi stres terkait pekerjaan dan dapat meminimalkan kemungkinan mengalami burnout (Stanley, Buvaneswari, & Arumugam, 2018).

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.