KOMPAS.com - Dibohongi, diabaikan, dan diserang; orang dapat menyakiti kita dengan jutaan cara, dan memaafkan mereka yang membuat kesalahan tidak selalu mudah.
Kita mungkin pernah kesal setengah mati karena jalur kita dipotong di jalan tol, direndahkan ibu mertua, atau dikhianati rekan kerja.
Memaafkan, seperti banyak hal dalam hidup, sejatinya lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.
Padahal, ada banyak manfaat bagi orang yang memaafkan daripada orang yang menerima pengampunan. Melepaskan kemarahan dan kebencian terhadap seseorang dapat memberikan keajaiban bagi kesehatan mental.
Baca juga: Mengapa Butuh Waktu Lama untuk Memaafkan Perselingkuhan?
Mengapa sulit memaafkan
Memaafkan bisa menjadi sulit ketika orang yang telah menyakiti kita tampak tidak pantas untuk dimaafkan. Rasanya seperti kita membiarkan mereka lolos begitu saja.
Meskipun perasaan tersebut sangat wajar, penting untuk diingat bahwa memaafkan memungkinkan kita lepas dari keterikatan dengan mereka yang telah menyakiti kita dan melangkah maju.
Keengganan untuk memaafkan juga bisa dipahami karena sulitnya untuk melupakan apa yang telah terjadi. Memaafkan seseorang yang telah melakukan perilaku yang tidak dapat diterima bisa jadi sulit jika kita belum melupakan kemarahan atau rasa sakit hati yang menyertai peristiwa itu sendiri.
Cara memaafkan
Langkah pertama dalam belajar memaafkan bukanlah tentang tindakan memaafkan, melainkan kebalikannya. Sebelum kita dapat mencapai titik dapat mempraktikkan pengampunan, kita perlu benar-benar merasakan perasaan terdalam tentang masalah tersebut. Itu berarti benar-benar membiarkan diri marah tentang apa yang terjadi.
Baca juga: 100 Ucapan Idul Fitri 2025: Menyemarakkan Hari Kemenangan
Setelah fase itu dilalui, cobalah untuk belajar berempati. Ketika seseorang menyakiti atau bersikap jahat, mungkin sulit untuk menempatkan diri kita pada posisi mereka.
Kita merasa tidak akan pernah melakukan itu kepada seseorang, dan mungkin kita tidak akan melakukannya. Namun, bukan berarti kita tidak pernah berperilaku buruk terhadap orang lain tanpa disengaja.
Kita juga dapat merenungkan mengapa masih menyimpan amarah. Bahkan jika hal yang dilakukan orang tersebut kepada telah berdampak besar pada hidup kita, apakah kemarahan dapat membantu proses penyembuhan? Jika kita menjawab tidak, memaafkan mungkin merupakan langkah selanjutnya yang baik.
Saat belajar memaafkan, penting untuk diingat bahwa memaafkan tidak berarti kita harus membiarkan orang itu kembali ke dalam hidup kita. Jika kehadirannya merugikan kita, tidak apa-apa untuk menyingkirkan mereka dari hidup kita atau menetapkan batasan yang ketat.
Baca juga: Tips Mengatasi Kesepian bagi Perantau yang Tidak Bisa Mudik Lebaran
Memaafkan baik untuk jantung kita, secara harfiah. Sebuah studi tahun 2017 dari Annals of Behavioral Medicine adalah yang pertama kali mengaitkan pengampunan yang lebih besar dengan berkurangnya stres dan pada akhirnya kesehatan mental yang lebih baik.
Tindakan memaafkan ternyata akan memancing berbagai hormon, seperti dopamin, oksitosin, dan kortisol.
Ketika seseorang memaafkan, hormon oksitosin dan dopamin dikeluarkan sehingga memunculkan perasaan lega dan bahagia. Sementara hormon kortisol yang berkaitan dengan stres menjadi lebih tidak aktif.
Penelitian lain pada tahun 2017 menunjukkan bahwa memaafkan menghasilkan persepsi kesejahteraan mental yang meliputi mengalami hubungan positif dengan orang lain, memahami kepekaan terhadap pertumbuhan spiritual, dan mengidentifikasi makna dan tujuan hidup serta rasa berdaya.
Maka, dalam momen Lebaran ini, marilah kita maaf-bermaafan.
Baca juga: Fenomena Ledakan Amarah di Zaman Sekarang: Bagaimana Cara Mengelolanya?
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.