Rabu, 3 September 2014 06:41

KERETA KOMUTER

Tempat Penyimpanan KRL Harus Ditambah

Senin, 5 September 2011 | 03:01 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

Jakarta, Kompas - Penambahan kereta rel listrik belum diikuti dengan penambahan tempat penyimpanan kereta. Padahal, kapasitas penyimpanan kereta yang tersedia saat ini, sudah semakin menipis.

Saat ini, ada 50 unit kereta rel listrik (KRL) bekas yang baru diimpor dari Jepang. Total, akan ada tambahan 130 unit KRL yang didatangkan pada 2011. Jumlah kereta yang baru tiba itu akan memperkuat 418 unit KRL yang beroperasi. Penambahan kereta akan terus dilakukan karena direncanakan KRL Jabodetabek mengangkut penumpang 1,2 juta orang per hari pada 2019.

Selama ini, 418 KRL disimpan di beberapa tempat penyimpanan kereta, yakni di Balai Yasa Manggarai, di tiga depo, dan di lima subdepo di wilayah Jabodetabek. Selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan, Balai Yasa dan depot juga menjadi tempat perawatan dan perbaikan KRL. Kondisi penyimpanan kereta di setiap tempat itu sudah padat.

Sekretaris Perusahaan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Makmur Syaheran, Minggu (4/9), mengatakan, tempat penyimpanan KRL sudah hampir penuh terisi kereta yang ada. ”Persoalan ini harus segera dicarikan pemecahannya agar rencana peningkatan kapasitas angkut KRL tidak tertunda lagi,” katanya.

160 unit per tahun

Tahun 2012, PT KCJ berencana menambah lagi KRL sejumlah 160 unit. Tahun 2013 dan 2014, jumlah KRL yang akan didatangkan ke Jakarta juga sama, yakni 160 unit per tahun.

Apabila ketersediaan kereta di Jepang bisa mencapai 200 unit, tidak tertutup kemungkinan ada penambahan KRL yang dikirim ke Jakarta. Penambahan armada ini diharapkan bisa mengantisipasi 6 persen peningkatan penumpang KRL per tahun.

Sementara, penambahan depo KRL terakhir dilakukan tahun 2008, dengan diresmikannya Depo Depok. Depo ini tergolong depo terbesar yang menjadi tempat penyimpanan KRL, serta perbaikan rutin harian, bulanan, triwulan, dan enam bulanan. Depo Depok yang mempunyai kapasitas penyimpanan 224 KRL, kini sudah diisi 216 KRL setiap hari.

Apabila percepatan ini tidak didukung dengan penambahan lokasi penyimpanan kereta, kereta yang baru datang justru akan menimbulkan masalah. ”Padahal kita berkejaran dengan waktu untuk meningkatkan pelayanan kepada pengguna kereta,” tutur Makmur.

Dukungan pemerintah atas KRL bisa terlihat dari besaran anggaran yang dialokasikan untuk penambahan prasarana, termasuk depo KRL. Manajer Humas PT KAI Daop 1 Mateta Rijalulhaq mengakui, keterbatasan tempat penyimpanan KRL sebagai satu masalah yang mesti dipecahkan bersama. Selama ini, kewenangan pembangunan depo KRL di pemerintah pusat.

”Sebenarnya ada beberapa tanah milik PT KAI yang bisa digunakan untuk depo KRL, semisal di kawasan Pisangan, Jakarta Timur. Namun, untuk membangun harus ada izin dari Kementerian Perhubungan.”

Selain depo, peningkatan daya angkut KRL Jabodetabek juga menghadapi berbagai masalah, seperti penambahan gardu listrik dan banyaknya perlintasan sebidang. Persoalan ini seharusnya sudah diselesaikan apabila ingin menjadikan KRL sebagai tulang punggung transportasi komuter Jabodetabek. Apalagi pertumbuhan penduduk di daerah sekitar Jakarta semakin pesat dan membutuhkan transportasi massal untuk mengakomodasi perjalanan saban hari. (ART)

 



IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui