Minggu, 21 Desember 2014 01:38

NEWS & FEATURES / HOT TOPICS - ARTIKEL

Riset: Olahraga Tak Bantu Atasi Depresi

Penulis : Bramirus Mikail | Sabtu, 9 Juni 2012 | 07:37 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
SHUTTERSTOCK

KOMPAS.com — Penelitian terbaru mengklaim bahwa menggabungkan aktivitas fisik dengan perawatan konvensional untuk depresi ternyata tidak membantu proses pemulihan. Riset ini didanai oleh NHS dan dipublikasikan dalam British Medical Journal.

Dalam kajiannya, peneliti membantu para relawan untuk meningkatkan tingkat aktivitas mereka. Di sisi lain, mereka juga menerima terapi atau obat anti-depresi.

Setelah satu tahun, sebanyak 361 pasien mengalami tanda-tanda depresi lebih sedikit, tetapi tidak ada perbedaan antara kelompok yang berolahraga dan tidak. Pedoman saat ini menyarankan agar pasien yang mengalami depresi melakukan sampai tiga sesi latihan setiap minggu.

Pedoman itu disusun oleh National Institute for Health and Clinical Excellence (Nice) pada tahun 2004. Pada saat itu mereka mengatakan bahwa berdasarkan penelitian yang sudah ada, peningkatan aktivitas fisik dapat membantu orang-orang dengan gejala depresi ringan.

Menurut para peneliti, temuan ini mengejutkan dan di luar perkiraan karena mereka berharap latihan fisik akan membantu mengatasi depresi. Namun, harus juga diingat bahwa pada penelitian ini pasien sudah menjalani pengobatan sehingga mereka lebih fokus melakukan latihan ketimbang perawatan medis.

"Pesan yang ingin disampaikan adalah Anda tidak harus berhenti berolahraga. Latihan memiliki banyak manfaat yang lain, baik dalam hal penyakit jantung, menurunkan tekanan darah, menyeimbangkan lemak dalam darah, memperkuat otot, dan membakar kalori. Banyak orang yang mengalami depresi mungkin memiliki masalah kesehatan lain juga. Badan yang aktif akan membantu untuk menghasilkan pikiran yang sehat," kata Prof Alan Maryon-Davis, ahli kesehatan masyarakat, dari King College London.

Dalam riset terbarunya, tim dari Universities of Bristol and Exeter, mencoba mengamati bagaimana pengaruh latihan benar-benar bisa bekerja dalam pengaturan klinis.

Semua relawan (361 orang) mengambil bagian dalam riset tersebut dan diberi perawatan konvensional sesuai dengan tingkat depresi mereka. Tetapi, selama delapan bulan beberapa orang dalam kelompok secara acak juga diberikan kesempatan untuk meningkatkan aktivitas fisik mereka.

Mereka diberi kebebasan untuk memilih jenis aktivitas yang diinginkan. Pendekatan ini mendorong partisipan lebih banyak bergerak selama periode waktu yang berkelanjutan—sesuatu yang bisa memiliki manfaat untuk kesehatan fisik secara umum. Tetapi, pada akhir tahun, para peneliti tidak menemukan adanya pengurangan gejala depresi pada kelompok yang lebih aktif.

Prof John Campbell, dari Peninsula College of Medicine and Dentistry, yang juga mengambil bagian dalam studi itu, mengatakan, "Banyak pasien yang menderita depresi lebih suka tidak harus mengambil obat anti-depresan, dan lebih memilih untuk mencari alternatif pengobatan tanpa obat yang berbentuk terapi."

"Olahraga dan aktivitas sepertinya menawarkan harapan sebagai salah satu pengobatan depresi, tetapi studi penelitian ini dengan cermat telah menunjukkan bahwa olahraga tampaknya tidak efektif dalam mengobati depresi," ujarnya.

Campbell mengatakan, pesan dari studi ini tidak berarti bahwa olahraga buruk untuk Anda. Olahraga tetap baik, tetapi tidak cukup baik bagi orang yang mengalami depresi cukup parah.

Saat ini, NHS masih merujuk pasien untuk mengikuti program sesi latihan yang diawasi sebagai bagian dari pengobatan untuk sejumlah penyakit, termasuk depresi. Hadirnya temuan ini, kemungkinan akan diperhitungkan sebagai review untuk pedoman yang berikutnya.






Sumber :
Editor :
Tri Wahono

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui