Obesitas akibat pola makan berlebihan sudah lama diketahui terkait dengan peningkatan risiko kanker usus besar. Namun, baru sekarang para ilmuwan mampu mengidentifikasi alasan di balik hubungan ini.
Sebuah studi baru mengungkapkan bahwa pola makan tinggi kalori dapat mematikan hormon penting dalam usus yang menon-aktifkan penekan tumor sehingga tumor usus terbentuk.
Baca juga: Timnas U17 Kalahkan Finalis Piala Asia 2023, Erick Thohir Apresiasi Perjuangan Luar Biasa
Kabar baiknya, para peneliti menemukan bahwa penggantian gen dapat dipakai untuk "penghidupan kembali penekan tumor" dan mencegah kanker berkembang.
Peneliti senior Dr Scott Waldman dari Thomas Jefferson University mengatakan studi mereka telah menunjukkan bahwa kanker usus besar dan rektal dapat dicegah pada individu obesitas dengan menggunakan terapi penggantian hormon.
Selain itu, penyakit lain yang berhubungan dengan kekurangan hormon, seperti kehilangan insulin pada diabetes juga dapat diobati.
Kelebihan kalori
Baca juga: Profil Surya Sahetapy, Putra Ray Sahetapy yang Berprofesi Dosen di Amerika
Orang gemuk diketahui memiliki risiko 50 persen lebih tinggi untuk terkena kanker kolorektal dibandingkan dengan orang dengan bobot normal.
Para ilmuwan mengira-ngira bahwa keterkaitan ini berdasarkan pada jumlah jaringan lemak dan proses metabolisme dari kelebihan kalori yang merupakan bahan bakar sel energi dan pertumbuhan.
Tim peneliti gabungan dari Thomas Jefferson, Harvard University and Duke Medical School telah menggunakan rekayasa genetika seekor tikus untuk meneliti keterkaitan ini.
Baca juga: Ungkap Kronologi Kasus Nastar Berjamur, Pemilik Clairmont: Kami Dapat Penawaran
Mereka menemukan bahwa obesitas, baik dari konsumsi lemak maupun karbohidrat berlebih, atau keduanya, berkaitan dengan hilangnya hormon guanylin yang diproduksi di epitel usus, yang merupakan sel-sel pelapis organ. Guanylin, guanylil siklase C (GUCY2C) bersifat mengatur regenerasi epitel usus.
"Lapisan usus sangat dinamis dan terus-menerus akan berganti dan GUCY2C berkontribusi sebagai kunci yang sangat dibutuhkan pada proses regenerasi ini," kata Dr Waldman.
Pada kasus kanker kolorektal, umumnya gen guanylin ini menjadi tidak aktif. Dan pasien obesitas akan mengalami penurunan gen ini sampai 80 persen dibandingkan dengan orang yang ramping.
Baca juga: Ribuan Kurir Antre Sepanjang 2 Kilometer untuk Retur Paket di Ulujami
Reseptor guanylyn ini berlaku sebagai penekan pertumbuhan dan pengontrol tumor. Tanpa hormon tersebut, reseptor tak akan bekerja.
"Ini terjadi sangat awal dalam pengembangan kanker. Ketika reseptor tak bekerja, epitel akan mengalami disfungsional yang membuat kanker dapat berkembang." kata Dr Waldman.