Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jasamarga

Awas, Pola Makan Berlebihan dapat Memicu Kanker Kolorektal

Kompas.com - 20/01/2016, 09:00 WIB
KOMPAS.com – Makan secukupnya dalam jumlah sedang bukan cuma berdampak positif bagi berat badan, tapi juga bisa menjauhkan kita dari risiko kanker kolorektal.

Obesitas akibat pola makan berlebihan sudah lama diketahui terkait dengan peningkatan risiko kanker usus besar. Namun, baru sekarang para ilmuwan mampu mengidentifikasi alasan di balik hubungan ini.  

Sebuah studi baru mengungkapkan bahwa pola makan tinggi kalori dapat mematikan hormon penting dalam usus yang menon-aktifkan penekan tumor sehingga tumor usus terbentuk.

Baca juga: Timnas U17 Kalahkan Finalis Piala Asia 2023, Erick Thohir Apresiasi Perjuangan Luar Biasa

Kabar baiknya, para peneliti menemukan bahwa penggantian gen dapat dipakai untuk "penghidupan kembali penekan tumor" dan mencegah kanker berkembang.

Peneliti senior Dr Scott Waldman dari Thomas Jefferson University mengatakan studi mereka telah menunjukkan bahwa kanker usus besar dan rektal dapat dicegah pada individu obesitas dengan menggunakan terapi penggantian hormon.

Selain itu, penyakit lain yang berhubungan dengan kekurangan hormon, seperti kehilangan insulin pada diabetes juga dapat diobati.

Kelebihan kalori

Baca juga: Profil Surya Sahetapy, Putra Ray Sahetapy yang Berprofesi Dosen di Amerika

Orang gemuk diketahui memiliki risiko 50 persen lebih tinggi untuk terkena kanker kolorektal dibandingkan dengan orang dengan bobot normal.

Para ilmuwan mengira-ngira bahwa keterkaitan ini berdasarkan pada jumlah jaringan lemak dan proses metabolisme dari kelebihan kalori yang merupakan bahan bakar sel energi dan pertumbuhan.

Tim peneliti gabungan dari Thomas Jefferson, Harvard University and Duke Medical School telah menggunakan rekayasa genetika seekor tikus untuk meneliti keterkaitan ini.

Baca juga: Ungkap Kronologi Kasus Nastar Berjamur, Pemilik Clairmont: Kami Dapat Penawaran

Mereka menemukan bahwa obesitas, baik dari konsumsi lemak maupun karbohidrat berlebih, atau keduanya, berkaitan dengan hilangnya hormon guanylin yang diproduksi di epitel usus, yang merupakan sel-sel pelapis organ. Guanylin, guanylil siklase C (GUCY2C) bersifat mengatur regenerasi epitel usus.

"Lapisan usus sangat dinamis dan terus-menerus akan berganti dan GUCY2C berkontribusi sebagai kunci yang sangat dibutuhkan pada proses regenerasi ini," kata Dr Waldman.

Pada kasus kanker kolorektal, umumnya gen guanylin ini menjadi tidak aktif. Dan pasien obesitas akan mengalami penurunan gen ini sampai 80 persen dibandingkan dengan orang yang ramping.

Baca juga: Ribuan Kurir Antre Sepanjang 2 Kilometer untuk Retur Paket di Ulujami

Reseptor guanylyn ini berlaku sebagai penekan pertumbuhan dan pengontrol tumor. Tanpa hormon tersebut, reseptor tak akan bekerja.

"Ini terjadi sangat awal dalam pengembangan kanker. Ketika reseptor tak bekerja, epitel akan mengalami disfungsional yang membuat kanker dapat berkembang." kata Dr Waldman.

Halaman:
Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau