Salin Artikel

Harus Keroyokan Dukung Ibu Sukses Menyusui di Tengah Pandemi

SOLO, KOMPAS.com – Tanpa pandemi Covid-19 sekalipun, proses pemberian air susu ibu (ASI) bisa menjadi tantangan besar yang harus dihadapi ibu menyusui. Pandemi membuat bobot tantangan bertambah. Setidaknya ini yang dirasakan sejumlah ibu menyusui di seputaran Kota Solo, Jawa Tengah (Jateng).

Anindya Dwi Hapsari, 26, sudah mengukuhkan niat untuk bisa memberikan ASI kepada buah hatinya. Dia pun sudah menyampaikan keinginannya itu kepada sang suami dan anggota keluarga lain.

Tapi, tidak disangka-sangka, ketika putri pertamanya lahir pada Agustus 2020, Anindya merasa kesulitan untuk dapat memberikan ASI. Dia melihat bayinya kesusahan untuk bisa meraih dan mengisap puting payudaranya.

Anindya panik kala itu. Dia cemas putrinya tak mendapatkan ASI secara optimal. Ibu menyusui asal RT 005/RW 003 Desa Waru, Kecamatan Baki, Sukoharjo itu pun hampir terpengaruh oleh saran saudaranya untuk dapat memberikan susu formula kepada sang buah hati.

Terlebih, Anindya saat itu belum berani lagi menemui dokter atau pergi ke rumah sakit karena pandemi. Dia khawatir bertemu dengan orang lain di fasilitas kesehatan (faskes) dan tertular virus corona.

Beruntung, saat sedang mencari informasi di media sosial, dia mendapati informasi tentang adanya layanan konseling menyusui online yang disediakan Asosisai Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Cabang Solo.

Tak mau melewatkan kesempatan, Anindya pun langsung mendaftar layanan tersebut. Dia akhirnya berhasil menanyakan kendala menyusui yang tengah dihadapi tanpa harus keluar meninggalkan rumah.

Setelah mengikuti prosedur pendaftaran layanan konseling menyusui online, Anindya lantas dihubungkan dengan konselor menyusui dari AIMI Solo. Dari hasil konsultasi, dia jadi tahu jika punya masalah iverted nipple (puting tenggelam) dan cara mengatasinya.

“Saya diberi pemahaman tentang masalah pelekatan yang benar dalam menyusui dan saya bersyukur sejak saat itu saya merasa mulai bisa optimal dalam memberikan ASI,” tutur Anindya kepada Kompas.com, Jumat (20/8/2021).

Dia mendapat masukan dari konselor menyusui AIMI Solo, Shinta Normala bahwa sebenarnya apa pun bentuk puting yang dimiliki seorang ibu tidak mentukan apakah bisa untuk menyusui atau tidak. Ini karena pelekatan yang benar pada proses menyusui adalah bukan menghisap puting, tapi menghisap pabrik ASI yang terdapat di sekitar areola.

Jika tidak yakin dengan hasil teknik pelekatan, kata Anindya, konselor menyebut ibu menyusui dengan masalah iverted nipple bisa melakukan siasat dengan menarik puting menggunakan spuit yang dipotong ujungnya lalu dibalik. Tapi, dia didingatkan bahwa hisapan bayi adalah cara paling ampuh menarik puting payudara ibu. Semakin sering dihisap bayi, maka puting diyakini akan semakin tertarik keluar.

Anindya menyebut, konselor menyusui menekankan bahwa penerapan teknik pelekatan mulut bayi yang benar pada payudara dan kenyamanan ibu yang diperoleh pada saat menyusui diyakini akan memperlancar proses menyusui.

“Saya sangat terbantu dengan ada layanan koseling dari AIMI. Setelah mendapatkan penjelasan dari konselor, saya jadi bersemangat lagi untuk memberi ASI. Konselor memberikan penjelasan dengan gambar-gambar juga, sehingga lebih mudah untuk dipahami,” jelas dia.

Beda cerita dialami oleh Siti Solekhah, 36, ibu menyusui asal RT 005/RW 008 Kelurahan Nusukan, Banjarsari, Solo. Di tengah pandemi, dia menghadapi masalah produksi ASI yang dirasa kurang maskimal bagi putri ketiganya yang lahir pada Juni 2021.

Siti menyadari bahwa selama ini lebih sering makan seadanya atau kurang menjaga pola makan. Ini terpaksa dilakukan dia karena menyesuaikan dengan pandapatan sang suami yang berkurang akibat pandemi.

Siti bercerita jika suaminya bekerja sebagai karyawan bagian marketing di sebuah perusahaan distributor tisu di Solo. Akibat sekolah-sekolah dan banyak kantor tutup selama pandemi, sang suami kehilangan banyak permintaan pembelian. Alhasil, suaminya kesulitan lagi meraih bonus penghasilan dan hanya bisa menerima gaji pokok yang nominalnya pas-pasan.

Selain pola makan, Siti menduga produksi ASI-nya bisa kurang maksimal karena disebabkan oleh faktor pikiran. Dia mengaku kurang tenang belakangan ini karena memang harus memikirkan kebutuhan rumah tangga yang belum bisa terpenuhi.

Siti pun merasa bertuntung dalam situasi sulit ini, dirinya mendapat cukup dukungan morel maupun materiel dari beberapa tetangga dan pengurus Pos pelayanan terpadu (Posyandu) RW. Dia di antaranya mendapat bantuan makanan bergizi untuk mendukung produksi ASI.

“Dukungan dari luar sangat berarti bagi saya. Saya sendiri ingin rasanya bisa memberikan ASI secara optimal untuk anak, tapi memang terkadang ada saja tantangannya,” jelas dia.

Semua pihak perlu turun tangan bantu ibu menyusui 

Saat dimintai tanggapan, konselor menyusui dari AIMI Solo yang juga menjabat sebagai wakil ketua di oganisasi tersebut, Shinta Normala, menyampaikan layanan konseling menyusui online merupakan inovasi yang dilakukan AIMI Solo menindaklanjuti situasi pandemi. Sebelum pandemi, AIMI Solo hampir selalu membuka layanan konseling menyusui dengan tatap muka.

“Kami berupaya tetap melakukan dukungan menyusui kepada para ibu yang mengalami masalah menyusui selama pandemi. Sejak awal wabah, kami buat layanan konseling menyusui online,” jelas Shinta.

Jumlah peminat layanan konseling menyusui online yang disediakan AIMI Solo terbilang cukup banyak. Setiap bulan setidaknya ada lima ibu baru yang mendaftar layanan ini.

Shinta bercerita, salah satu persoalan yang banyak ditanyakan para ibu saat mengakses layanan konseling menyusui adalah solusi tentang produksi ASI yang dirasa tidak cukup terutama di awal kelahiran.

Menurut dia, hal itu wajar, terlebih para ibu menyusui kini tengah menghadapi kondisi serba terbatas atau ketidaknyamanan akibat pandemi Covid-19. Bagaimanapun, kata Shinta, stres bisa menurunkan produksi ASI.

Sebagai solusi, para ibu disarankan untuk dapat melakukan berbagai hal yang bisa membuat nyaman atau bahagia sambil tetap menerapkan gaya hidup dan pola makan sehat.

Selain mengadakan layanan konseling menyusi online, Shinta bercerita, selama pandemi ini, AIMI Solo telah mencoba menyelenggarakan berbagai kegiatan edukasi seputar menyusui via Instagram live, webinar, dan sosialisasi pada komunitas dengan peserta terbatas.

Dia menyebut, sasaran program AIMI Solo tersebut bukan hanya ibu menyusui, tapi juga masyarakat umum dari banyak kalangan. Ini dilakukan AIMI Solo karena memang perlu dipahami bersama bahwa kesuksesan menyusui bukan hanya jadi tanggung jawab ibu seorang.

Ibu menyusui memerlukan dukungan dari seluruh pihak, mulai dari tingkat keluarga, komunitas, sistem kesehatan, tempat kerja, pemerintah, hingga tingkat global.

“Terlebih di masa pandemi ini, ibu menyusui jelas membutuhkan dukungan ekstra baik dari segi psikologis, pemenuhan gizi, hingga layanan kesehatan yang aman,” tutur dia.

Belum lagi, kata Shinta, bilamana ibu menyusui sampai terpapar Covid-19. Ibu menyusui dengan positif Covid-19 perlu didukung untuk dapat menyusui dengan protokol kesehatan (prokes) ketat demi kesehatan ibu maupun anak yang optimal.

Ketika ibu menyusui dinyatakan positif Covid-19, dia menekankan, sebaiknya tidak langsung memutuskan berhenti menyusui anaknya.

Jika memungkinkan, ibu disarankan tetap bisa menyusui. Dalam situasi ini, Shinta mengingatkan, dukungan dari anggota keluarga lain yang tidak terpapar Covid-19 sangat diperlukan, termasuk untuk mengasuh dan menjaga bayi di luar jam menyusu.

Untuk memastikan kondisi sebelum menyusui, ibu dengan Covid-19 dapat berkonsultasi lebih dahulu dengan dokter.

"Kebijakan untuk ibu yang terinfeksi virus corona itu tetap boleh menyusui. Efek perlindungan ASI bahkan sangat kuat dalam melawan infeksi penyakit melalui peningkatan daya tahan tubuh anak," jelas Shinta.

Berhenti menyusui, kata dia, malah berisiko terjadinya kegagalan menyusui yang berarti menghambat pemberian nutrisi terbaik bagi bayi. Setelah ibu sembuh dari Covid-19, produksi ASI-nya bisa jadi sudah menurun atau bayi menolak untuk menyusu langsung.

Shinta pun mengapresiasi tindakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten yang menyiapkan tempat isolasi terpusat khusus bagi ibu hamil dan ibu menyusui positif Covid-19 dengan memanfaatkan sebuah hotel.

Dia berharap kebijakan Pemkab Klaten ini dapat dicontoh oleh pemerintah daerah lain untuk meningkatkan perawatan dan pemantauan kondisi ibu hamil dan menyusui yang terkonfirmasi positif.

"Jadi semua pihak memang harus turun tangan dalam mendukung kesuksesan ibu menyusui atau pemberian ASI kepada bayi," ucap Shinta.

Senada, Dosen Diploma Kebidanan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Erindra Budi Cahyanto, berpendapat semua pihak perlu turut serta dalam mendukung upaya ibu dapat tetap menyusui di tengah pandemi. Menurut dia, masyarakat termasuk pihak yang perannya sangat dibutuhkan dalam mendukung pemenuhan hak pemberian ASI untuk bayi.

Erindra menyampaikan, salah satu ujung tombak kegiatan di masyarakat yang berperan penting dalam mendukung kesuksesan ibu menyusui adalah Posyandu. Kader Posyandu dapat membantu mengatasi setiap persoalan yang dihadapi ibu menyusui.

“Kader Posyandu misalnya, diharapkan bisa memfasilitasi untuk pemberian makanan tambahan bagi ibu menyusui yang membutuhkan. Mereka juga bisa jadi penghubung ibu menyusui dengan fasilitas kesehatan jika memerlukan penanganan medis,” jelas dia.

Erindra menuturkan, harapannya kegiatan Posyandu bisa terus dilakukan selama pandemi bukan hanya untuk membantu kelancaran ibu menyusui. Lebih jauh, kata dia, kegiatan Posyandu diperlukan untuk mempercepat penurunan angka stunting. Tapi, penyelenggaraan Posyandu memang selama pandemi ini perlu menyesuaikan kondisi lingkungan untuk mengurangi risiko penularan virus corona.

“Jika memungkinkan, harapnya Posyandu bisa jalan terus. Kegiatan ini sementara bisa dilakukan dengan sejumlah inovasi, seperti kader yang mengunjungi anak, ibu hamil, dan ibu menyusui ke rumah-rumah atau dilakukan pembagian jam undangan datang,” jelas dia.

Dukungan vaksinasi bagi ibu menyusui

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, dr. Retno Erawati, berharap dan mengimbau ibu menyusui di Kota Solo khususnya untuk tetap dapat memberikan ASI kepada bayi selama pandemi.

Dia menyebut, ada banyak cara yang bisa dilakukan ibu untuk tetap memberikan ASI dalam situasi pandemi ini, termasuk jika terpapar Covid-19.

Jika dinyatakan positif Covid-19, ibu menyusui tetap bisa memberikan ASI ke bayi dengan penerapan prokes tentunya. Sebelum menyusui, ibu menysui disarankan untuk dapat mencuci tangan dengan sabun, membersihkan payudara, serta memakai masker, face shiled, dan apron.

“Intinya selama pandemi ini bayi harus tetap mendapatkan ASI dari ibunya. Karena tidak dibuktikan bahwa Covid-19 bisa menular lewat ASI,” beber dia.

Retno mengklaim Pemkot selama ini terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya tetap menyusui di tengah pandemi. Termasuk, kata dia, DKK juga mencoba mengawasi bilamana terjadi pelanggaran dalam promosi produk pengganti ASI selama pandemi ini.

Retno menyampaikan, DKK melakukan sosialisasi dan edukasi dengan berbagai cara, baik lewat media sosial, maupun secara langsung lewat petugas puskesmas, kader kesehatan, dan kader posyandu di wilayah.

“Bagi ibu menyusui yang punya kendala dalam pemberian ASI sangat dipersilakan untuk dapat berkonsultasi dengan petugas puskesmas di wilayah masing-masing. Untuk konsultasi ini, gratis,” jelas dia.

Retno menyampaikan, untuk saat ini, Pemkot Solo memang belum mempunyai fasilitas tempat isolasi terpusat khusus untuk ibu hamil dan menyusui yang terpapar Covid-19. Tempat isolasi terpusat masih bercampur dengan pasien umum. Namun, dia memastikan, di setiap tempat isolasi terpusat, telah disediakan tempat khusus yang bisa dipakai ibu menyusui untuk memerah ASI.

Retno menuturkan, pada saat ini Pemkot Solo tengah memprioritaskan ibu hamil dan ibu menyusui untuk dapat memperoleh vaksinasi Covid-19. Vaksinasi ini diharapkan bisa membantu menurunkan angka kematian ibu maupun angka kematian bayi di masa depan. 

“Salah satu pencegahan penularan Covid-19 selain penerapan prokes adalah dengan vaksinasi pada ibu menyusui agar ibu dan anaknya terlindungi dari risiko penularan penyakit ini,” terang dia.

Pada Agustus ini, Pemkot Solo menargetkan bisa melakukan vaksinasi Covid-19 kepada sekitar 1.020 ibu hamil dan menyusui. Jumlah ini bisa bertambah mengikuti kondisi riil di lapangan terkait keberadaan ibu hamil usia kehamilan 13-33 pekan dan ibu menyusui.

“Terkait vaksinasi ini, kami imbau kepada masyarakat untuk hati-hati dengan hoaks. Bahwasanya yang benar adalah vaksin Covid-19 aman untuk ibu menyusui. Vaksin yang disuntikan kepada ibu menyusui bukan virus hidup,” ujar dia.

Retno menerangkan secara biologis dan klinis vaksinasi Covid-19 kepada ibu menyusui tidak menimbulkan risiko bagi bayi dan anak menyusu maupun anak yang menerima ASI perah. Antibodi ibu setelah vaksinasi malah dapat dialirkan melalui ASI untuk memproteksi bayi.

Sementara itu, saat disinggung soal persoalan ekonomi yang mungkin dialami oleh keluarga ibu menyusui selama pandemi dan memengaruhi produksi ASI, Retno menyebut, bisa melapor ke Dinas Sosial (Dinsos) Solo. Dinsos dapat memberikan bantuan bagi keluarga yang mengalami kerentanan dalam masalah ekonomi.

“Kalau di Pemkot Solo, semua OPD (organisasi perangkar daerah) terlibat dalam penangana Covid. DKK dadi segi kesehatanya. Kemudian nanti kalau dia (ibu menyusui) mengalami kerentanan di dalam masalah ekonomi ada Dinsos yang berperan meberikan bantuan,” jelas dia.

https://health.kompas.com/read/2021/08/20/164400368/harus-keroyokan-dukung-ibu-sukses-menyusui-di-tengah-pandemi

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.