Obat Ilegal Diedarkan Lewat Internet

Kompas.com - 06/10/2011, 05:10 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Indonesia bergabung bersama 80 negara lain dalam Operasi Pangea IV 2011

yang dikoordinasi Interpol guna mengungkap peredaran obat ilegal lewat internet. Ditemukan 57 jenis didominasi obat kimia untuk disfungsi ereksi, obat tradisional, dan obat perangsang libido perempuan.

”Obat-obatan itu tak memiliki izin edar serta tak ada jaminan manfaatnya sebab termasuk obat keras yang pemberiannya harus berdasarkan resep dokter dengan diagnosis dan dosis yang sesuai,” kata Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kustantinah, dalam konferensi pers, Rabu (5/10), di Jakarta.

Sekretaris National Center Bureau (NCB) Interpol Brigadir Jenderal (Pol) Arief Wicaksono Sudiutomo menyatakan, Operasi Pangea dimulai tahun 2008. Indonesia mulai berpartisipasi pada tahun 2011 dan menemukan 30 situs internet yang memuat produk obat-obat ilegal. ”Operasi dilakukan secara serentak pada tanggal 20-27 September 2011,” kata Arief.

Menurut Arief, dalam operasi itu disita 26 jenis obat disfungsi ereksi, 12 jenis obat tradisional, 10 obat perangsang libido perempuan, 5 jenis obat penurun berat badan, 7 jenis obat gosok, dan 2 jenis suplemen makanan. Jumlahnya ada 1.225 kotak, 115 botol, 24 tube, 13 sachet, dan 240 tablet dengan perkiraan nilai total Rp 82 juta.

Obat tradisional

Kustantinah juga memaparkan hasil pengawasan BPOM terhadap peredaran obat tradisional ilegal yang mengandung bahan kimia obat. Sebanyak 21 jenis obat tradisional yang dicampur bahan kimia obat ditemukan. Obat itu digunakan untuk obat pelangsing dan penambah stamina. ”Tren itu berlangsung tahun 2008 hingga 2010,” kata dia.

Pada kurun waktu tahun 2001- 2007 ada tren obat tradisional berbahan kimia obat untuk penghilang rasa sakit dan rematik. Kandungannya, antara lain, fenilbutason, metampiron, parasetamol, dan asam mefenamat.

Bahan kimia obat untuk pelangsing dan penambah stamina yang banyak digunakan adalah sibutramin, sildenafil, dan tadalafil.

Ketua Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia Charles Saerang mengatakan, pasokan bahan kimia obat diindikasikan berasal dari pabrik-pabrik obat kimia besar. Pemerintah dinilai kurang membina industri jamu.

”Saat ini, sudah ada 200 pabrik jamu yang tutup. Tanpa ada pembinaan dari pemerintah, dikhawatirkan nantinya jamu dari luar negeri yang akan menguasai pasar Indonesia,” kata Charles.

(NAW)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.