Kompas.com - 29/07/2012, 10:19 WIB
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menegaskan, tidak ada toleransi terhadap kekerasan kepada anak. Pihak KPAI juga mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan peraturan agar pelaksanaan masa orientasi siswa (MOS) tidak dicampuri dengan unsur kekerasan.

Seperti diketahui, Selasa (24/7/2012) lalu, sebanyak delapan orang siswa kelas I SMA Don Bosco Pondok Indah mengalami tindak kekerasan oleh seniornya. Aksi itu memang tidak terjadi saat MOS. Namun, para siswa dibawa ke luar sekolah setelah mengikuti jam pelajaran.

"Masa orientasi siswa (MOS) itu pengenalan sekolah. Pola lama dengan unsur kekerasan harus segera diakhiri," kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Maria Ulfa Anshor, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (28/7/2012).

Maria melihat, kejadian kekerasan yang terjadi di sekolah seakan sudah menjadi tradisi turun temurun yang dilakukan senior ke juniornya. Oleh karena itu, ia meminta pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk bertindak tegas dan sekolah yang bersangkutan harus bertanggung jawab.

Menurut Maria Ulfa, KPAI sudah sering menyampaikan kepada pihak sekolah agar panitia MOS tidak diserahkan sepenuhnya kepada siswa. Guru dan sekolah harus mendampingi.

"Kalau ini terjadi lagi, sekolah melakukan pembiaran, sekolah harus bertanggung jawab," ujarnya.

Terkait kasus Don Bosco, Maria mengatakan, tim KPAI sudah diturunkan ke lapangan untuk mengkaji masalah itu. Dia mengatakan, ada delapan anak yang babak belur dalam kejadian itu.

"Saya kira ini harus diselesaikan sehingga sekolah itu harus punya perspektif perlindungan anak," katanya.

Selain itu, KPAI juga membuka pengaduan untuk kekerasan dalam MOS sejak awal tahun ajaran baru kemarin. Menurutnya, berdasarkan laporan yang diterima pekan lalu, ada tujuh orang yang menyampaikan kekerasan dalam MOS, mulai dari bentakan hingga kekerasan fisik dan psikis.

"Kebetulan kami dapat pengaduan dalam bentuk video, sehingga kami menyebutnya itu sebagai penyiksaan kepada anak," ujar Maria.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.