Risiko Keguguran dari Penggunaan Kemasan Plastik

Kompas.com - 15/10/2013, 14:31 WIB
Ilustrasi kehamilan ShutterstockIlustrasi kehamilan
|
EditorAsep Candra


KOMPAS.com
- Di zaman serba praktis seperti sekarang ini, sangat mudah kita menemukan makanan atau minuman yang diwadahi plastik. Namun sebaiknya kita harus lebih bijak dalam menggunakannya.

Pasalnya, sebuah studi baru menemukan adanya hubungan antara zat kimia dalam plastik yang bernama  bisphenol A (BPA)  dengan risiko keguguran. Kadar BPA yang tinggi dalam darah dapat meningkatkan risiko keguguran pada perempuan. Serta, BPA juga dapat mempersulit mereka untuk hamil.

Dr Linda Giudice, ahli biokimia sekaligus presiden American Society for Reproductive Medicine mengatakan, studi tersebut mungkin tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat, namun BPA jelas mempengaruhi kesuburan dan aspek kesehatan manusia yang lain.

BPA dan senyawa kimia plastik lainnya memiliki efek mirip hormon yang lemah. Pemeriksaan menunjukkan, BPA ditemukan hampir pada setiap urin manusia yang masuk ke dalam tubuh terbawa dari minuman yang berwadah plastik atau botol susu bayi.

Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) sendiri sebenarnya telah menetapkan BPA aman sebagai komponen dari kemasan makanan dan minuman. Namun studi menekankan konsentrasi BPA yang tinggi dalam darah tetap dapat meningkatkan risiko kesehatan, salah satunya keguguran.

Ahli endokrinologi reproduksi Stanford University dr Ruth Lathi mengatakan, kebanyakan keguguran dikarenakan gangguan telur atau kromosom. Sementara percobaan pada tikus menunjukkan, BPA meningkatkan risiko keguguran tersebut.

Lathi dan timnya menganalisa pada 115 wanita hamil muda dengan riwayat keguguran atau ketidaksuburan. SebanyaK 68 dari mereka pernah mengalami keguguran, dan 47 lainnya sukses melakukan persalinan.

Analisa pada sampel darah menunjukkan, wanita yang memiliki kandungan BPA terbanyak dalam darahnya ternyata juga memiliki risiko keguguran yang tinggi yaitu mencapai 80 persen dibandingkan dengan mereka yang kandungan BPA-nya rendah.

Kendati demikian, studi ini berskala kecil dan tidak memperhitungkan faktor risiko lain dari keguguran. "Bisa saja wanita dengan kadar BPA tinggi juga memiliki faktor risiko lain yang meningkatkan kemungkinan keguguran," kata Lathi.

Lathi menegaskan, studi ini bukannya menyatakan BPA tidak aman, namun lebih menekankan agar masyarakat bisa lebih bijak dalam menggunakan kemasan plastik.

Untuk mengurangi paparan BPA, hindari penggunaan bahan plastik pada makanan panas untuk mencegah kebocoran BPA tercampur dengan makanan. Hindari pula paparan sinar matahari pada botol plastik, menyimpan botol plastik dalam mobil, serta batasi makan makanan kalengan.


Sumber FOXNews
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X