Kompas.com - 24/11/2013, 16:17 WIB
Warga menggunakan masker ketika beraktifitas di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (11/4/2013). KOMPAS IMAGES / VITALIS YOGI TRISNAWarga menggunakan masker ketika beraktifitas di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (11/4/2013).
|
EditorAsep Candra

KOMPAS.com-Rokok merupakan penyumbang polusi terbesar dengan kandungan CO yang dihasilkannya. Namun selain rokok, masyarakat juga harus mewaspadai CO yang dihasilkan lingkungan sekitar.

Gas CO nerupakan hasil proses pembakaran yang tak sempurna akibat minimnya persediaan oksigen. Di lingkungan, gas CO bisa ditemukan pada asap hasil pembakaran bahan bakar fosil dan industri.

Mereka yang tidak merokok bukan berarti memiliki kadar CO rendah dalam tubuhnya. Hal itu dialami Elly Umi (57) dan Lily Sumatri (53) saat melakukan pengukuran kadar CO dalam tubuh, dalam rangka ulang tahun ke-50 RSUP Persahabatan, Jakarta.

Kendati keduanya tidak merokok, namun kandungan CO dalam tubuhnya ternyata mencapai 5 ppm. Padahal bila tidak terpapar polusi serta bukan perokok aktif atau pasif, kandungan CO dalam tubuh bisa berkisar 0-4 ppm.

Untuk mengukur kadar CO dalam tubuh, seseorang harus menahan nafas selama 10-15 detik. Udara tersebut kemudian dihembuskan dalam alat yang disebut carbon monoxide meter. Jumlah CO yang dihembuskan sebanding dengan CO yang berikatan dengan darah (COHb).

Makin tinggi CO maka COHb dalam tubuh semakin besar. Hal ini tentu berbahaya karena COHb menghalangi Hb mengikat dan menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya seseorang dengan COHb tinggi mudah lemas karena kekurangan oksigen.

Elly dan Lily mengaku kaget dengan hasil yang didapat dari pemeriksaan. "Saya mungkin mau tes ulang. Lingkungan saya nggak ada yang merokok. Masa iya sampai segitu," kata Elly pada KOMPAS Health, Minggu (24/11/2013).

Hal senada disampaikan Lily, bapak seorang anak yang mengaku sudah 20 tahun berhenti merokok.

Kendati begitu, keduanya mengaku tinggal di rumah yang berdekatan dengan sumber polusi. Elly yang berdomisili di Pondok Kelapa, Jakarta Timur mengakui, rumahnya berhadapan dengan bengkel mobil. Jarak 4 meter ditambah tembok rumah yang cukup tinggi, ternyata tidak menjadi benteng ampuh menghalangi paparan CO yang berasal dari knalpot dan sejumlah aktivitas lain dalam bengkel tersebut.

Hal serupa disampaikan Lily yang bertempat tinggal di Duren Jaya, Bekasi Timur. Rumah yang tidak jauh dari pabrik, menyebabkan udara beraroma tidak enak kerap menerobos dinding rumahnya. Hal ini menyebabkannya kerap merasa tidak nyaman dan sering terbangun dari tidur.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X