Kompas.com - 07/01/2014, 19:19 WIB
|
EditorWardah Fajri
KOMPAS.com - Setiap orang bisa melakukan CrossFit, namun setiap orang juga berisiko cedera ketika melakukannya. Lantaran risiko tersebut, maka tidak semua orang aman melakukan latihan berintensitas tinggi ini. Nah, saat ingin melakukan latihan CrossFit, bagaimana Anda tahu tubuh Anda siap melakukannya?

Menurut dokter spesialis olahraga Michael Triangto, CrossFit termasuk dalam olahraga intensitas tinggi. Artinya, CrossFit memaksa tubuh mengeluarkan keringat, berdampak lebih cepat dan banyak pada organ serta otot, dibandingkan olahraga berintensitas rendah. Namun, menentukan intensitas olahraga yang cocok untuk seseorang sifatnya sangat subjektif.

"Intensitas olahraga yang cocok untuk saya yang setiap hari olahraga tentunya berbeda dengan intensitas olahraga yang cocok bagi orang yang jarang berolahraga," ujarnya saat dihubungi Kompas Health, Selasa (7/1/2013).

Untuk menentukannya secara objektif, lanjut dia, kita membutuhkan ukuran yang pasti. Salah satu pengukuran yang cukup akurat adalah denyut jantung saat olahraga. Menurut Michael, denyut jantung adalah hal yang bisa jadi parameter kebugaran seseorang.

Hitungan denyut jantung maksimal saat berolahraga adalah 220 dikurangi usia dalam tahun denyut per menit. "Jadi misalnya usia seseorang dua puluh, berarti denyut jantungnya saat berolahraga tidak boleh melebihi 220 dikurangi 20, yaitu 200 denyut permenit," ujar dokter yang berpraktik di Klinik Slim + Health Sport Therapy ini.

Namun untuk menjadi lebih sehat, Michael menyarankan untuk menjaga angka denyut jantung masih di bawah angka maksimal tersebut, atau 60-70 persen dari angka maksimal. Sehingga dengan perhitungan di atas, angkanya berkisar 120-160 denyut per menit.

"Kisaran tersebut perlu diperhatikan, karena jika kurang maka olahraga tidak akan terlalu bermanfaat bagi kesehatan, sementara jika lebih, akan berisiko, seperti cedera atau serangan jantung," tuturnya.

Sementara itu, dokter spesialis olahraga Andi Kurniawan mengatakan, sebelum melakukan olahraga sebaiknya dilakukan terlebih dahulu tes kebugaran. "Khususnya bagi yang orang yang baru akan memulai olahraga," ujar dokter yang berpraktik di Indonesia Sport Medicine Centre ini.

Andi menjelaskan, tes kebugaran antara lain terdiri dari tes fleksibitas, kekuatan, ketahanan, dan sebagainya. Selain itu pada tes ini juga akan diketahui faktor-faktor risiko yang bersifat individual, riwayat kesehatan, dan problem kesehatan yang dimiliki.

Bagaimana mengetahui latihan sudah melampaui batas dan harus dihentikan? Andi menerangkan, selain denyut jantung, kelelahan otot bisa jadi penandanya. Jika otot mulai lemas saat melakukan gerakan atau mengangkat beban saat melakukan CrossFit, sebaiknya segera hentikan latihan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.