Kompas.com - 19/03/2014, 17:07 WIB
|
EditorAsep Candra

KOMPAS.com -
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita TB keempat terbanyak di dunia.  Oleh karena itu, dibutuhkan metode pengobatan TB yang lebih efisien guna memperbaiki kondisi tersebut. Salah satu metode yang membuat pengobatan TB menjadi lebih kuat dan cepat adalah dengan ekstrak mengkudu dan jahe merah.

Dokter spesialis paru dari RS Persahabatan Jakarta Arifin Nawas mengatakan, uji klinik acak pada pasien TB menunjukkan, kombinasi ekstrak mengkudu dan jahe merah dapat membuat pengobatan TB lebih efisien. "Pengobatan menjadi lebih cepat dan kuat," ujarnya.

Dalam acara diskusi SOHO #BetterU bertajuk Hari Tuberkulosis Sedunia di Jakarta, Rabu (19/3/2014), Arifin memaparkan, kombinasi mengkudu dan jahe merah bukan merupakan pengobatan utama dari TB, melainkan sebagai ajuvan atau pelengkap pengobatan TB.

Kedua herbal tersebut memiliki peran yang berbeda dalam pengobatan TB. Arifin menjelaskan, ekstrak mengkudu dapat mengaktivasi sistem imunitas dari pasien. "Diketahui penyakit TB baru terjadi setelah terinfeksi bakteri TB karena sistem imunitas tubuh yang menurun," kata dia.

Sementara itu, kombinasi mengkudu dan jahe merah memberikan efek sinergi antimikroba yang mencegah bakteri TB untuk tumbuh dan berkembang biak. Itulah kenapa kombinasi tersebut juga dapat membantu mengurangi penularan TB.

Arifin menuturkan, dalam waktu kurang atau sama dengan enam mingu, sebanyak 20 pasien kelompok kombinasi mengkudu dan jahe mengalami perbaikan kondisi dibandingkan dengan 13 pasien yang hanya diberi plasebo. Parameter yang digunakan adalah perubahan Basil Tahan Asam (BTA) positif ke BTA negatif.

Penelitian dilakukan pada 100 pasien yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang diberikan pengobatan TB dan kombinasi ekstrak mengkudu dan jahe merah, dan kelompok yang diberikan pengobatan TB dan plasebo.

"Kombinasi ekstrak mengkudu dan jahe dapat diberikan sebagai tambahan pada pasien TB yang sedang menjalani pengobatan TB sesuai panduan TB nasional," saran Arifin.

Kendari demikian, Arifin mengatakan, diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah subjek yang lebih besar dan pemeriksaan status imunologi yang lebih lengkap.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.