Kompas.com - 24/03/2014, 13:11 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

Hal itu dibenarkan oleh Dwiana. Menurutnya, cara terbaik untuk mencegah komplikasi dari plasenta previa adalah dengan deteksi dini dengan USG yang dilakukan di usia kehamilan 3-4 bulan. "Pemeriksaan kehamilan rutin merupakan hal vital dalam menjaga kehamilan yang sehat," tegasnya.

Di samping rajin memeriksakan kandungannya, kehamilan berisiko Utami dapat ditekan juga karena faktor orang-orang terdekat yang sangat mendukung, serta fasilitas kesehatan yang terbilang dekat dari kediamannya.

"Saya patut bersyukur karena memiliki suami siaga. Di usia kehamilan saya sembilan bulan, saya sempat mengalami pendarahan, mungkin karena posisi plasenta yang menutupi jalan lahir. Untungnya, suami langsung membawa saya ke rumah sakit yang hanya lima menit dari rumah. Di sana, saya langsung menjalani operasi bedah Caesar. Meski pun saya inginnya normal, tapi keadaannya cukup sulit," tutur Utami.

Ya, Utami mungkin satu dari calon ibu yang beruntung. Kehamilan berisikonya dapat dilewatinya dengan baik sehingga putranya Hafidz kini dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat. Namun tidak semua calon ibu seberuntung Utami, sehingga mereka pun menghadapi risiko kematian yang tidak kecil.

Angka Kematian ibu dan bayi

Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2013 menunjukkan, angka kematian ibu (AKI) meningkat dari tahun-tahun sebelumnya yaitu mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup. Jumlah ini meningkat dari tahun 2007 yang jumlahnya tercatat 228 per 100.000 kelahiran hidup.

Menurut Dwiana, persiapan kehamilan merupakan hal terpenting dalam menekan AKI. "Budaya kehamilan tanpa persiapan yang terjadi pada kebanyakan masyarakat Indonesia harus ditinggalkan," tandasnya.

Persiapan kehamilan, terang dia, meliputi antara lain mengetahui risiko kehamilan dan pemenuhan gizi. Dwiana memaparkan, risiko kehamilan meningkat seiring bertambahnya usia ibu, jumlah kehamilan, atau dekatnya jarak kehamilan.

Untuk mengetahui risiko kehamilan, diperlukan pemeriksaan rutin, minimal empat kali selama kehamilan. Bahkan kini para dokter kandungan telah menyarankan untuk meningkatkan frekuensi pemeriksaan kehamilan sebanyak 12 kali, khususnya bagi kehamilan risiko tinggi.

Tinggi rendahnya risiko kehamilan ditentukan oleh kondisi kehamilan itu sendiri. Jika semakin banyak faktor risiko seperti preeklamsia, diabetes gestasional, atau bahkan memiliki hal yang menjadi ancaman penyebab kematian ibu, maka semakin berisiko lah sebuah kehamilan.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.