Hentikan Mata Rantai Penularan TB

Kompas.com - 28/03/2014, 17:34 WIB
Keping blok persegi panjang, di atas area seluas 90 meter persegi, yang disusun dalam 3 bentuk grafis yang memiliki makna. Dok. CEPAT-LKNUKeping blok persegi panjang, di atas area seluas 90 meter persegi, yang disusun dalam 3 bentuk grafis yang memiliki makna.
|
EditorWardah Fajri

KOMPAS.com - Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang dengan mudah dapat menjangkiti siapa pun. Proses tersebut juga berlangsung secara terus-menerus. Namun mata rantai penularan TB sebenarnya dapat diputus, yaitu dengan mengetahui cara penularannya dan menghindarinya.

Untuk meningkatkan kesadaran akan penularan penyakit tersebut, Community Empowerment of People Against Tuberculosi-Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (CEPAT-LKNU) mempertunjukkan sebuah karya seni dengan menyusun 5.000 keping blok persegi panjang yang memiliki makna seputar penularan TB. Karya seni yang dilakukan di atas area seluas 90 meter tersebut dilakukan juga dalam rangka Hari TB Sedunia yang jatuh Senin, 24 Maret 2014.

Kepingan blok persegi yang disusun membentuk tiga makna yang berbeda. Pertama adalah “spiral” yang berarti penyebaran. Ini melambangkan proses penyebaran bakteri TB yang dengan mudah dapat menjangkiti siapa pun. Proses ini akan berlangsung terus-menerus.

Bentuk kedua adalah “paru-paru”. Cairan tubuh yang membawa bakteri hanyalah yang berasal dari paru-paru penderita. Air liur, air mata, nafas, tidak menyebabkan orang lain tertular.

Bentuk ketiga adalah “batuk”. Batuk berkelanjutan adalah salah satu sindrom yang menunjukkan bahwa seseorang mungkin saja mengidap TB. Batuk juga merupakan metode penyebaran yang paling umum terjadi.

Blok terkecil yang menjadi pemicu efek berantai hanya setinggi 2,5 cm. Sebuah simbolisasi bahwa sebuah penyebaran besar (blok terbesar berukuran tinggi 4m) bisa saja ditimbulkan oleh hal yang kecil atau sederhana. Tapi sayangnya hal sederhana tersebut sering dianggap sebelah mata oleh pengidap sampai akhirnya ketika sadar, seringkali semua sudah terlambat.

Penyusunan karya seni tersebut sendiri memakan waktu 20 jam, dikerjakan oleh 12 tenaga sukarela yang mayoritas terdiri dari mahasiswa. Di bagian akhir karya seni ini balok kayu mulai bereskalasi menjadi makin besar. Uniknya, balok terbesar tidak roboh layaknya balok-balok lainnya.

Balok terakhir akan bertahan berdiri karena ditahan oleh “masyarakat”. Ini merupakan simbolisasi dari kehendak bersama dari setiap stakeholder kesehatan masyarakat untuk menghentikan penyebaran TB.

Meskipun prevalensinya menurun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, jumlah penderita penyakit tuberkulosis (TB) di Indonesia masih terbilang tinggi. Bahkan, saat ini jumlah penderita TB di Indonesia menempati peringkat empat terbanyak di seluruh dunia.

"Indonesia peringkat empat terbanyak untuk penderita TB setelah China, India, dan Afrika Selatan. Tapi, itu karena sesuai dengan jumlah penduduknya yang juga banyak," kata Direktur Jenderal Pengawasan Penyakit dan Pengelolaan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI Tjandra Yoga Aditama beberapa waktu lalu di Jakarta.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sakit Kepala Sebelah Kiri: Penyebab dan Cara Menghilangkannya

Sakit Kepala Sebelah Kiri: Penyebab dan Cara Menghilangkannya

Health
Idealnya, Sperma Harus Keluar Berapa Kali dalam Seminggu?

Idealnya, Sperma Harus Keluar Berapa Kali dalam Seminggu?

Health
Tanpa 6 Organ Tubuh Ini, Manusia Masih BIsa Hidup Normal

Tanpa 6 Organ Tubuh Ini, Manusia Masih BIsa Hidup Normal

Health
6 Bahaya Karang Gigi Jika Dibiarkan Menumpuk

6 Bahaya Karang Gigi Jika Dibiarkan Menumpuk

Health
4 Tanda Kesalahan Cara Menyikat Gigi

4 Tanda Kesalahan Cara Menyikat Gigi

Health
7 Cara Cepat Menghilangkan Jerawat

7 Cara Cepat Menghilangkan Jerawat

Health
5 Cara Turunkan Risiko Kanker Paru

5 Cara Turunkan Risiko Kanker Paru

Health
Jumlah Kalori dalam Donat

Jumlah Kalori dalam Donat

Health
Pedoman Screen Time pada Anak Balita dari WHO

Pedoman Screen Time pada Anak Balita dari WHO

Health
Manfaat Kesehatan Makan Makanan Pedas

Manfaat Kesehatan Makan Makanan Pedas

Health
Tips Cegah Stres saat WFH di Masa Pandemi Covid-19

Tips Cegah Stres saat WFH di Masa Pandemi Covid-19

Health
Jenis Makanan yang Harus Dihindari Saat Jerawatan

Jenis Makanan yang Harus Dihindari Saat Jerawatan

Health
Sperma Encer: Penyebab dan Cara Mengatasi

Sperma Encer: Penyebab dan Cara Mengatasi

Health
Makanan yang Tidak Boleh Dimakan saat Diet

Makanan yang Tidak Boleh Dimakan saat Diet

Health
5 Alasan Bayi di Bawah Usia 6 Bulan Belum Boleh Diberi MPASI

5 Alasan Bayi di Bawah Usia 6 Bulan Belum Boleh Diberi MPASI

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X