Kompas.com - 12/04/2014, 15:52 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com — Sosialisasi ke masyarakat mengenai pembatasan asupan gula, garam, dan lemak untuk mencegah risiko penyakit tak menular penting dilakukan pemerintah. Kesadaran masyarakat akan ikut menekan pengusaha makanan untuk mencantumkan informasi kandungan gula, garam, dan lemak pada label kemasan makanan.

Pencantuman itu diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2013 tentang Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak pada Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji yang akan berlaku dua tahun lagi.

”Sosialisasi pembatasan asupan gula, garam, dan lemak dan bahaya ketiga zat jika dikonsumsi berlebihan perlu dibuat menarik, misalnya dengan tayangan visual. Jika pemerintah hanya menyosialisasikan lewat pemberitaan dan buku saku, kurang efektif,” ujar Mohammad Toyibi, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Fakultas Kedokteran UI/RS Persahabatan, Jakarta Timur, Jumat (11/4).

”Jika dikonsumsi secara berlebih, lemak, dan gula berpotensi menimbulkan penyakit jantung,” kata Toyibi.

Ada dua jenis lemak, lemak jenuh (saturated fat), dan lemak tak jenuh (unsaturated fat). Lemak jenuh perlu diwaspadai. Lemak jenuh dalam darah diubah menjadi kolesterol jahat (low density lipoprotein/LDL). LDL berlebihan akan melekat ke dinding pembuluh darah, termasuk pembuluh darah jantung. Tumpukan LDL yang melekat (plak) akan menyebabkan pembuluh darah jantung menjadi keras dan menyempit sehingga aliran darah kurang lancar.

Plak bersifat rapuh dan mudah pecah meninggalkan ”luka” pada dinding pembuluh darah yang mengaktifkan pembekuan darah. Jika pembekuan darah atau runtuhan plak menyumbat total pembuluh darah menuju jantung, terjadilah serangan jantung.

Gula jadi pemicu gangguan jantung jika hemoglobin mengalami glikosilasi. Glikosilasi terjadi jika molekul gula melimpah dalam darah sehingga ruang pembuluh darah untuk mengangkut oksigen menyempit. Akibatnya, jantung tak mampu memompa oksigen ke seluruh tubuh. Hal itu ditandai sesak dada.

Terkait makanan siap saji yang kini jadi gaya hidup masyarakat, Toyibi menyatakan, makanan seperti itu banyak mengandung lemak jenuh yang berbahaya.
Perhatikan kaki lima

Sebagai ilustrasi, dia mencontohkan ayam goreng siap saji. ”Ayam goreng siap saji dari gerai makanan waralaba dan yang dijual di pinggir jalan banyak mengandung minyak dengan kadar lemak jenuh tinggi,” katanya. Bahkan, yang dijual di pinggir jalan digoreng dengan minyak bekas berkali-kali. Minyak seperti itu mengandung lemak jenuh tinggi.

Hal senada dikemukakan Sri Wuryanti, dokter spesialis gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi. Menurut dia, ayam goreng umumnya dikonsumsi bersama kentang goreng dan minuman manis bersoda. Hidangan itu mengandung lemak, garam, dan gula dengan kadar tinggi. Kalori yang ditimbulkan lebih dari yang dibutuhkan.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber KOMPAS
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.