Kompas.com - 19/09/2014, 14:24 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com -
Bersama  ketiga temannya, Ody mendatangi Kantor Cabang Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Jakarta Barat untuk mengecek posisi nomor antrean pendaftaran Jaminan Kesehatan Nasional yang diambilnya pagi hari, Kamis (18/9).

Meskipun telah memiliki jaminan kesehatan dari tempat dia bekerja, pria berusia 32 tahun itu memutuskan tetap mendaftar sebagai peserta mandiri. "Saya baru mau ajukan.Semoga bisa selesai hari ini,” ujar Ody.

Keputusannya mendaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan itu untuk mengantisipasi jika ia sakit. Lagi pula, premi sebagai peserta mandiri dinilai tak terlalu mahal dibandingkan dengan asuransi yang dimilikinya saat ini. Pria yang bekerja di perusahaan alih daya dengan penghasilan Rp 5 juta per bulan itu memilih layanan kelas I dengan premi Rp 59.500 per bulan. ”Saya tak merasa rugi. Siapa tahu saya pindah kerja, sudah ada jaminan kesehatan dari BPJS,” katanya.

Sementara itu, Endro (45), mantan pegawai perusahaan telekomunikasi, menjadi peserta JKN sejak Mei 2014. Menurut Nesti (36), istrinya, Endro sebelumnya menjadi peserta program sebuah perusahaan asuransi swasta. ”Setelah suami terdiagnosis menderita kanker kolorektal, dokter menyarankan kami ikut BPJS,” ujarnya.

Nesti menuturkan, ia dan suaminya mengikuti saran dokter karena persyaratan untuk klaim lebih mudah dibandingkan dengan asuransi komersial. Permohonan klaim asuransi, misalnya, tak dikabulkan jika pemohon menderita penyakit terkait kebiasaan merokok. Peserta asuransi komersial juga harus menjalani serangkaian tes kesehatan. ”Kalau di BPJS, setelah terdaftar, bisa langsung digunakan,” ucapnya.

Tingginya minat terhadap JKN juga terjadi di sejumlah daerah. Marli (27), karyawan perusahaan tambang batubara, mendaftarkan orangtuanya sebagai peserta JKN di Kantor Cabang BPJS Kesehatan Balikpapan. Ia pernah ikut asuransi umum, tetapi klaim asuransi tak kunjung turun saat berobat ke rumah sakit. ”Rasanya lebih asyik ketimbang asuransi umum. Apalagi, ini milik pemerintah, jelas terjamin,” kata Marli.

Sementara itu, Wongkar (52), karyawan swasta yang bermukim di Makassar, Sulawesi Selatan, mendaftarkan dirinya dan tiga anggota keluarga sebagai peserta JKN meski telah memperoleh jaminan kesehatan dari tempat kerjanya. Alasannya, jaminan kesehatan dari kantornya ada batasan maksimal yang bisa diganti. Itu pun hanya berlaku untuk dirinya, tidak untuk berobat jalan anggota keluarga.

Kelas menengah

Sejak diimplementasikan 1 Januari 2014, minat masyarakat mendaftar sebagai peserta JKN masih tinggi. Layanan jaminan kesehatan nasional itu tak hanya dimanfaatkan masyarakat kurang mampu, tetapi kini juga dilirik kalangan masyarakat menengah sebagai jaminan kesehatan agar tak jatuh miskin jika sakit.

Hal itu terlihat dari panjangnya antrean calon peserta, terutama peserta mandiri, yang mendaftar sebagai peserta JKN di kantor-kantor cabang BPJS di Tanah Air. Kantor Cabang BPJS Kesehatan Makassar, misalnya, setiap hari selalu dipenuhi warga yang mendaftar sejak pagi. Tak jarang mereka kehabisan nomor antrean sehingga harus datang hari berikutnya karena antrean dibatasi hanya untuk 350 orang.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.