Kompas.com - 20/12/2014, 11:00 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Anak-anak yang ketika ibunya saat hamil terpapar polusi udara beresiko dua kali lebih besar menderita autisme dibandingkan dengan ibu hamil yang hidup di lingkungan berudara bersih.

Partikel halus yang dilepaskan dari pembakaran, kendaraan, dan asap pabrik merupakan zat berbahaya yang berkaitan erat dengan autisme. Demikian kesimpulan penelitian yang dilakukan tim dari Harvard School of Public Health.

Penelitian awal juga menemukan kaitan antara polusi dan autisme. Termasuk studi tahun 2010 yang menyebutkan bahwa risiko bayi mengalami autisme meningkat dua kali lipat jika saat hamil trimester tiga ibu hidup di dekat jalan raya yang polusi udaranya tinggi.

Dalam studi yang dilakukan tim dari Harvard ini, ditemukan bukti tambahan kaitan antara polusi dan autisme itu. Pemerintah AS menemukan autisme di negeri tersebut meningkat pesat menjadi 1 dari 68 anak dari sebelumnya 1 dari 150 anak di tahun 2000.

Para ahli meyakini peningkatan jumlah tersebut menggambarkan kesadaran masyarakat akan gangguan tumbuh kembang ini.

Walau gangguan tersebut sangat terkait dengan genetik, peningkatan insiden ini membuat para ahli tertarik untuk menyelidiki apakah faktor lingkungan turut berperan.

Studi tim Harvard melibatkan anak-anak dari 116.430 wanita dalam Nurse's Health Study II yang dimulai tahun 2989. Tim peneliti mengumpulkan data di mana para wanita itu tinggal saat hamil dan level polusi. Kemudian dibandingkan dengan riwayat kelahiran dari 245 anak yang mengidap autisme dan 1.522 anak yang tumbuh kembangnya normal. Semua anak lahir antara tahun 1990-2002.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ternyata tidak ada kaitan antara autisme dengan polutan partikel halus sebelum atau usia kehamilan awal, atau setelah bayi lahir. Namun, paparan polusi yang tinggi saat ibu hamil trimester tiga meningkatkan risiko autisme dua kali lipat.

Belum jelas bagaimana partikel halus itu memicu autisme, tetapi partikel polutan ini diselubungi banyak sekali kontaminan dan bisa masuk ke sel-sel sehingga mengganggu perkembangan otak bayi. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Sumber Reuters
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gairah Seks Menurun Setelah Menopause, Begini Cara Mengatasinya

Gairah Seks Menurun Setelah Menopause, Begini Cara Mengatasinya

Health
7 Penyebab Ambeien Berdarah yang Perlu Diwaspadai

7 Penyebab Ambeien Berdarah yang Perlu Diwaspadai

Health
Parafimosis

Parafimosis

Penyakit
11 Penyebab Tenggorokan Terasa Panas yang Bisa Terjadi

11 Penyebab Tenggorokan Terasa Panas yang Bisa Terjadi

Health
Asam Urat

Asam Urat

Penyakit
Mengenal Indeks Glikemik pada Makanan dan Efeknya Pada Tubuh

Mengenal Indeks Glikemik pada Makanan dan Efeknya Pada Tubuh

Health
Nyeri Mata

Nyeri Mata

Penyakit
Tanda-Tanda Si Kecil Siap Memulai MPASI

Tanda-Tanda Si Kecil Siap Memulai MPASI

Health
Kutil

Kutil

Penyakit
7 Penyebab Faringitis yang Perlu Diwaspadai

7 Penyebab Faringitis yang Perlu Diwaspadai

Health
Amnesia

Amnesia

Penyakit
9 Penyebab Sering Berdeham, Termasuk Bisa Jadi Gejala Penyakit

9 Penyebab Sering Berdeham, Termasuk Bisa Jadi Gejala Penyakit

Health
Mitos atau Fakta, Sering Marah Bikin Darah Tinggi?

Mitos atau Fakta, Sering Marah Bikin Darah Tinggi?

Health
Hepatitis D

Hepatitis D

Penyakit
16 Gejala Laryngopharyngeal Reflux (LPR) yang Perlu Diwaspadai

16 Gejala Laryngopharyngeal Reflux (LPR) yang Perlu Diwaspadai

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.