Kompas.com - 05/02/2015, 10:59 WIB
Pengunjung mencari pakaian merek-merek tertentu yang unik dan berkualitas di Toko Barang Bekas Bos (Babebo) di Kawasan Mergosono, Kota Malang, Senin (25/11/2014). SURYA/Hayu Yudha ParabowoPengunjung mencari pakaian merek-merek tertentu yang unik dan berkualitas di Toko Barang Bekas Bos (Babebo) di Kawasan Mergosono, Kota Malang, Senin (25/11/2014).
|
EditorLusia Kus Anna


JAKARTA, KOMPAS.com  -
Kementerian Perdagangan melarang penjualan pakaian bekas impor karena berdasarkan uji laboratorium, pakaian itu mengandung banyak bakteri yang berbahaya bagi kesehatan. Kementerian Perdagangan mengaku menemukan 216.000 koloni bakteri per gram dalam celana impor bekas.

Temuan itu berdasarkan uji laboratorium terhadap celana impor yang diduga terkena bekas menstruasi. Hasil uji tersebut diketahui dengan mengambil sampel 25 baju dan celana bekas impor dari Pasar Senen, Jakarta.

Pakaian bekas yang tidak dicuci bersih pun diketahui berisiko membahayakan kesehatan kulit. Dokter spesialis kulit Ratna Komala mengatakan, yang paling mudah menular pada kulit adalah jamur.

“Pakaian bekas kan ada jamur, itu yang dapat menular. Yang berisiko tinggi karena bakteri-bakteri itu juga banyak sekali dari pakaian dalam,” ujar Ratna saat dihubungi Kompas.com, Rabu (4/2/2015).

Infeksi jamur ini umumnya membuat kulit seseorang terasa gatal-gatal. Bisa juga memunculkan bercak-bercak putih seperti panu. Jamur tersebut bisa saja menular ketika mencoba-coba pakaian bekas yang langsung menyentuh kulit.

Jamur pun tetap bisa menular jika pakaian bekas tidak dicuci dengan bersih. Jika dibiarkan, penyakit jamur juga bisa menular ke anggota keluarga yang berada dalam satu rumah.

“Misalnya jamur, dalam satu rumah bisa ketularan juga. Bisa gatal-gatal, bercak-bercak. Pengobatan bisa lama sampai dua bulan,” terang Ratna.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tak hanya itu, pakaian juga bisa menularkan penyakit herpes, yaitu penyakit kulit yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini berupa gelembung cair seperti cacar pada kulit. Jika pakaian terkena gelembung cair yang pecah, maka dapat menularkan kepada orang lain yang juga akan memakai pakaian tersebut.

“Bisa (menular lewat pakaian), terutama skin to skin contact,” kata Ratna.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Psikopat

Psikopat

Penyakit
7 Makanan untuk Mencegah Osteoporosis

7 Makanan untuk Mencegah Osteoporosis

Health
Midriasis

Midriasis

Penyakit
13 Penyebab Kelemahan Otot yang Perlu Diwaspadai

13 Penyebab Kelemahan Otot yang Perlu Diwaspadai

Health
Fibromyalgia

Fibromyalgia

Health
3 Jenis Anemia yang Umum Terjadi pada Ibu Hamil

3 Jenis Anemia yang Umum Terjadi pada Ibu Hamil

Health
Hepatitis B

Hepatitis B

Penyakit
4 Penyebab Eksim yang Perlu Diwaspadai

4 Penyebab Eksim yang Perlu Diwaspadai

Health
Perikarditis

Perikarditis

Penyakit
3 Jenis Makanan Tinggi Kolesterol yang Tetap Baik Dikonsumsi

3 Jenis Makanan Tinggi Kolesterol yang Tetap Baik Dikonsumsi

Health
Kusta

Kusta

Penyakit
11 Penyebab Pendarahan saat Melahirkan

11 Penyebab Pendarahan saat Melahirkan

Health
Osteoporosis

Osteoporosis

Penyakit
10 Penyebab Darah dalam Urine yang Perlu Diwaspadai

10 Penyebab Darah dalam Urine yang Perlu Diwaspadai

Health
Ulkus Kornea

Ulkus Kornea

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.