Kompas.com - 26/02/2015, 15:00 WIB
EditorLusia Kus Anna

Oleh: Adhitya Ramadhan

Srimulyani (52) telah mengantre selama 30 menit di Poliklinik Rosela, Rumah Sakit Soeradji Tirtonegoro, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (6/2). Bukan untuk konsultasi ataupun mengambil obat resep dokter, Srimulyani membeli jamu untuk membantu mengontrol gula darah. Kondisinya membaik setelah berobat dan mengonsumsi jamu.

"Awalnya, saat berobat karena gula darah tinggi, saya ditawari mengonsumsi jamu. Setelah minum jamu ternyata enak. Di rumah, saya buat sendiri jamunya, tinggal merebus daun salam dan kunir,” katanya.

Di Poliklinik Rosela, RS Soeradji Tirtonegoro, jamu telah menjadi terapi komplementer alternatif. Poliklinik Rosela merupakan bagian dari jejaring klinik saintifikasi jamu yang berperan dalam riset khasiat jamu.

Tradisi minum jamu sebagai upaya memelihara kesehatan telah berlangsung turun-temurun. Namun, khasiat dan keamanan jamu sebagai pilihan terapi tak punya dasar ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan.

Untuk itu, Kementerian Kesehatan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan menempuh saintifikasi jamu sebagai terobosan demi menghadirkan bukti ilmiah khasiat dan keamanan jamu warisan nenek moyang kita. Saintifikasi diharapkan jadi jembatan dalam mengintegrasikan jamu pada layanan kesehatan formal.

Peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Yuli Widiyastuti, Kamis (5/2), menjelaskan saintifikasi jamu adalah upaya membuktikan khasiat jamu secara ilmiah.

Jamu saintifik berbeda dengan obat tradisional, obat herbal terstandar (OHT), dan fitofarmaka. Obat tradisional adalah sediaan bahan alam belum terstandar yang manfaatnya belum berdasarkan hasil pengujian ilmiah, tetapi kepercayaan. Adapun OHT adalah obat tradisional bentuk ekstrak yang sudah terstandar dan lewat uji praklinik (pada hewan).

Sementara fitofarmaka juga merupakan obat tradisional bentuk ekstrak dan terstandar yang tak hanya diuji praklinik, tetapi juga uji klinik pada manusia. Bentuk sediaan OHT dan fitofarmaka bisa kapsul atau pil.

Adapun jamu saintifik tidak melalui uji praklinik, karena selama ini secara empiris masyarakat sudah menggunakannya. Sama seperti fitofarmaka, jamu saintifikasi telah melalui uji klinis tahap I-IV. Bentuk jamu saintifikasi berupa simplisia untuk direbus atau kapsul.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.