Pengakuan Calo Antrean Berobat Pasien BPJS

Kompas.com - 09/04/2015, 17:37 WIB
Ilustrasi: Ratusan warga antre untuk mendaftar Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di kantor cabang Jakarta Selatan, Jalan Raya Pasar Minggu, Pancoran, Jakarta. Nadia ZahraIlustrasi: Ratusan warga antre untuk mendaftar Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di kantor cabang Jakarta Selatan, Jalan Raya Pasar Minggu, Pancoran, Jakarta.
|
EditorLusia Kus Anna


JAKARTA, KOMPAS.com –
 Praktik percaloan di Indonesia seakan tak ada habisnya.  Tak hanya calo tiket penerbangan, kereta api, atau nonton bola, kini percaloan pun terjadi untuk antrean berobat bagi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan.

Antrean panjang untuk mendapat pengobatan membuat calo bermunculan di rumah sakit. Mereka membantu pasien yang tidak bisa datang pagi untuk mengambil antrean.

Sigit (bukan nama sebenarnya) mengaku sering membantu pasien atau keluarga pasien mengambil nomor antrean.

“Saya bisa ambilin nomor antreannya. Mau dapat nomor satu pun bisa,” kata Sigit saat ditemui Kompas.com di salah satu rumah sakit di Jakarta, Senin (6/4/2015).

Ia bisa datang pukul 03.00 WIB untuk mengantre mengambil nomor. Padahal, pengambilan nomor baru dibuka pukul 06.00 WIB. Sigit mengungkapkan, pukul 03.00 saja antrean bisa mencapai 50 orang.

“Pukul 05.00 saja biasanya nomor antrean sudah seratus,” lanjut Sigit.

Sigit tak seorang diri. Ia mengaku memiliki empat orang teman yang juga biasa menjadi calo di rumah sakit. Menurut Sigit praktik percaloan sudah menjadi rahasia umum di seluruh rumah sakit.

“Semua temen-temen saya juga. Biasanya satu orang ngambilin satu nomor saja,” kata Sigit.

Tak hanya mengambil nomor antrean. Menurut Sigit, ia juga bisa membantu mengurus berkas-berkas yang dibawa pasien ke loket berikutnya, seperti berkas rujukan ke rumah sakit. Setelah itu, pasien pun tak perlu datang terlalu pagi. Menurut Sigit, pasien cukup datang sekitar pukul 08.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB.

Sementara itu, jika tanpa bantuan calo dan pasien baru datang pukul 08.00, nomor antrean bisa mencapai 400 orang. Kemudian pukul 10.00 biasanya sudah mencapai 700.

Tentunya ada upah yang diberikan untuk para calo ini. Namun, Sigit mengaku tidak memiliki patokan harga. Sigit mengatakan, biasanya tak lebih dari Rp 50.000.

“Saya mah dikasih berapa saja ya terima. Terserah saja yang ngasih berapa,” kata Sigit.

Praktik percaloan ini memang menguntungkan bagi pasien yang memiliki uang lebih untuk membayar calo. Namun, sangat merugikan bagi pasien tidak mampu karena mereka tidak memiliki dana lebih untuk membayar calo sehingga terkadang harus menunggu lama, bahkan baru keesokan harinya dilayani berobat karena nomor antrean sudah tutup.

Pada pasien rumah sakit rujukan nasional yang berasal dari luar kota dan tidak mampu, terkadang mereka terpaksa menginap di lobi rumah sakit untuk mendapatkan nomor antrean.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X